Selasa, 01 November 2011

Hati-hati, Virus Hedon Menyerang Remaja

Masa remaja adalah masa yang paling indah. Banyak orang mengatakan hal demikian dan saya pun memiliki asumsi yang sama. Apa pasal ? Masa remaja adalah masa dimana kita banyak memiliki kesempatan untuk berekspresi dengan bebas bersama teman-teman sebaya. Bersosialisasi, bermain, berpetualang dan mencari berbagai hal yang sesuai dengan keinginannya. Rasanya tak salah jika kita menyebut bahwa masa remaja memang merupakan masa paling indah dan menyenangkan.
Masa transisi menuju kedewasaan
Para pakar psikologi lebih condong menyebut bahwa masa remaja adalah suatu masa transisi dari masa anak-anak menuju masa kedewasaan. Dalam masa peralihan inilah remaja berada pada posisi yang sangat rentan oleh berbagai pengaruh dari luar, sehingga muncullah ketidakseimbangan pada dirinya berupa emosi yang sangat labil. Berawal dari inkonsistensi, pengaruh-pengaruh itu dengan mudah diterimanya baik itu pengaruh yang bersifat positif maupun yang negatif. Jika itu pengaruh yang positif  maka itu adalah sesuatu hal yang sangat mendukung, namun jika itu pengaruh yang bersifat negatif maka akan menjadi akar munculnya berbagai permasalahan.

Kita menyadari bahwa globalisasi memang membawa banyak pengaruh positif dalam kehidupan ini, tetapi dampak negatifnya juga tak terbantahkan. Globalisasi menyeret beberapa kalangan tercebur dalam suatu faham yaitu individualistik dan materialistik, akibatnya sifat sosial, gotong royong dan kekeluargaan pun hilang tak berbekas. Pada akhirnya muncullah apa yang disebut dengan pola hidup hedonisme. Hedonisme pada dasarnya adalah sebuah gaya hidup seseorang yang lebih menekankan pada unsur kesenangan atau kenikmatan belaka.

Parahnya kini remaja-remaja kita banyak yang sudah terjangkiti virus hedon tersebut. Berpikir asal senang , hidup berkecukupan dan menikmati hidup dengan pola seperti artis atau aktor yang dilihat melalui tayangan televisi, sungguh sangat menyesatkan. Handphone dengan brand ternama, kendaraan roda empat atau roda dua yang mewah dan tampilan baju dengan mode yang nyentrik. Okelah, jika itu dilakukan oleh mereka-mereka yang hidupnya ditopang oleh orang tua yang sangat mapan. Itu tidak menjadi permasalahan yang berarti. Tetapi sangat ironis sekali, takkala remaja-remaja yang dilihat dari latar belakang keluarganya saja sangat memprihatinkan namun mereka pun tak mau kalah dengan budaya hedonisme.Mereka tidak pernah menyadari latar belakang sosial ekonominya, namun tetap menuntut kehidupan yang serba enak dari orang tuanya.

Banyak contoh cerita tentang hal ini, bagaimana orang tua yang kehidupannya pas-pasan harus menjual tanah hanya karena tuntutan sepeda motor serta handphone dari anak kesayangannya. Karena jika tidak dipenuhi maka mereka tak akan mau bersekolah atau bahkan mengancam akan meninggalkan rumah.  Lagi-lagi orang tua yang telah bersusah payah membesarkan anak-anaknya menjadi korban anaknya sendiri. Saya kira masih banyak contoh-contoh lain yang sejenis yang bisa kita dapatkan. Inilah hebatnya pengaruh budaya hedonisme bagi kalangan remaja-remaja kita.

Tulisan ini bukan berarti untuk mem-vonis para remaja, karena saya yakin banyak juga remaja-remaja kita yang memiliki potensi untuk berkembang dan memiliki jiwa yang optimistik tetapi tetap mempunyai nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Tulisan ini hanya sebagai pelecut bagi para remaja agar tidak terjangkit virus hedon,  lakukan aktivitas-aktivitas yang lebih bermanfaat baik disekolah ataupun di kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Berharap pula orang tua agar tetap mendampingi dan mengawasi putra-putrinya dengan penuh kasih sayang,  tak lupa juga mengingatkan kepada diri saya pribadi dan teman-teman guru lain tentang  fungsi guru dalam berperan membentuk karakter para remaja khususnya di lingkungan sekolah.


Semoga bermanfaat. Salam ..

5 komentar:

JIMMY mengatakan...

untuk remaja memang biasanya ingin senang2 dan belum memikirkan ke depannya. disinilah pengaruh orang tua dalam mengajarkan hal yang baik2 harus lebih besar karena sifat remaja yang masih bingng menentukan jati diri bisa terpengaruh ke hal yang buruk jika tidak dijaga..

SALAM,

silahkan mampir yaa ^^

alizaka mengatakan...

memang harus diajarkan hidup prihatin sama kedua orang tuanya...

disinilah peran penting orang tua... salah membina waktu kecil akan menuai keburukan perangai anaknya kelak...

mampir-mampir ya
Meningkatkan Traffic Blog Bagi Pemula Secara Drastis

Rasimun Way mengatakan...

@Ali : itu adalah salah satu kewajiban orang tua untuk mendidik dan menanamkan sikap yang baik.

Rasimun Way mengatakan...

@jimmy : yupz betul, hitam putihnya anak juga tergantung bimbingan dan pengawasan dari orang tua

Anonim mengatakan...

Ironis, ketika globalisme telah disepakati sebagai kepentingan bersama. Artinya standar dunia barat-lah jadi acuan. Sehingga kini ada tuntutan untuk berseragam diri dengan mereka. Tidak seragam dianggap tertinggal dan tidak beradab.

Istilah globalisme hanya kamuflase politik. Kita sedang diarahkan pada suatu masa dimana kekuatan politik, media dan ekonomi berada pada genggaman kelompok elit tertentu. Artinya pada saatnya nanti mungkin kita akan menyaksikan dunia dikendalikan oleh sekelompok psikopat penguasa sumber ekonomi, sistem pendidikan, politik, media informasi, dlsb.

Globalisme adalah ketika, Planet + People = Profit

Globalisme akan membawa dampak yang lebih buruk lagi. Fenomena hedonisme yang kita saksikan ini adalah gejala awal.

Panorama Pantai Menganti

Dalam sebuah kesempatan saya menemani dua orang tamu dari Malang, dalam rangka melakukan pendampingan sebuah program di sekolah. Usai kegiat...