Selasa, 24 April 2012

Catatan 'Galau' tentang Ujian Nasional

Ujian Nasional yang telah dilaksanakan seminggu yang lalu, tepatnya dimulai tanggal 16 sampai 19 April 2012 untuk SMA, MA ataupun SMK. Minggu ini, mulai hari Senin sampai Kamis, 23 sampai 26 April 2012 telah dan sedang berlangsung Ujian Nasional bagi siswa SMP dan yang sederajat. Ujian Nasional  diselenggarakan dengan tujuan antara lain untuk mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan peserta didik secara nasional, sebagai hasil dari proses pembelajaran dan  sekaligus untuk memetakan tingkat pencapaian hasil belajar siswa pada tingkat sekolah dan daerah.

Sebelum pelaksanaan UN tersebut, sekolah sudah memiliki schedul berupa pelaksanaan Ujian Sekolah. Pelaksanaan Ujian sekolah ini sangat bervariatif, karena setiap satuan pendidikan memang diberikan keleluasaan dalam menyusun soal-soal ujian. Untuk mata pelajaran-mata pelajaran tertentu yang secara umum merupakan mata pelajaran yang di UN-kan soal-soal ujian sekolah biasanya dikendalikan dari K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah). Artinya dari teknis pembuatan soal-soal ujian sekolah tersebut sampai proses penggandaan dan distribusinya menjadi tanggung jawab K3S.

Disamping itu, kegiatan ujian praktik untuk beberapa mata pelajaran yaitu pendidikan agama dan pendidikan jasmani, olahraga/kesehatan masih mewarnai beberapa tahapan sebelum menempuh Ujian Nasional. Sebagai gongnya, boleh dikatakan Ujian Nasional ini menjadi satu-satunya momok bagi peserta didik. Walaupun saat ini UN tidak 100% menjadi faktor penentu kelulusan bagi peserta didik, namun harus diakui bahwa sejarah buruk telah tercipta di negeri ini dengan pelaksanaan UN tersebut. Banyak peserta didik yang tidak sadarkan diri, jiwanya menjadi labil akibat ketidaklulusan dalam mata pelajaran yang di UN-kan. 

Munculnya Tradisi Baru
Ujian Nasional tidak hanya membawa dampak yang kurang baik terhadap peserta didik, pihak sekolah pun secara langsung terkena imbasnya. Rasa ketakutan yang begitu berlebihan dari pihak sekolah sehingga memunculkan tradisi-tradisi baru di sekolah menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Bagaimana persiapan khusus dilakukan oleh sekolah, salah satunya adalah latihan-latihan soal atau try out yang telah dirancang khusus untuk mengkondisikan para peserta didik agar merasa lebih mantap dalam menghadapi ujian tersebut.

Try out jikalau boleh saya katakan sudah menjadi semacam tradisi. Hampir seluruh sekolah mempersiapkan kegiatan ini semata-mata untuk menghadapi Ujian Nasional.  Pada umumnya pelaksanaan try out dirancang setelah kegiatan pembelajaran rutin usai, penyelenggaraannya dapat di atur dengan model pendekatan menyerupai pelaksanaan Ujian Nasional. Tujuan kegiatan try out ini adalah sebagai sarana untuk melatih kesiapan mental peserta didik dan sekaligus untuk mengetahui perkembangan penguasaan materi peserta didik.

Sekalipun nilai Ujian Nasional bukan satu-satunya faktor kelulusan namun bukan rahasia lagi bahwa dengan kegiatan Ujian Nasional ini kredibelitas sekolah akan dipertaruhkan. Oleh karenanya segala usaha yang terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional betul-betul dipersiapkan secara matang. Pada tahapan selanjutnya tradisi yang selalu dijalankan dalam rangka pelaksanaan Ujian Nasional adalah adanya program pembahasan atau membedah soal-soal Ujian Nasional. Kegiatan ini lebih fokus kepada aspek teknis untuk menyelesaikan soal sehingga peserta didik lebih memahami dan mendalami berbagai jenis soal.

Tradisi terakhir menjelang pelaksanaan Ujian Nasional adalah pelaksanaan mujahadah. Entah siapa yang pertama memulai, namun mujahadah sudah menjadi tren dan cara yang baik untuk menyiapkan mental peserta didik. Terlepas dari pro dan kontra tentang pelaksanaan mujahadah menjelang Ujian Nasional kita harus mengakui bahwa peserta didik tidak hanya kita persiapkan secara akademis saja namun aspek spiritual juga tidak boleh ketinggalan. Meminjam istilah asing yaitu spiritual building harus tetap ditekankan karena pada saat pelaksanaan Ujian Nasional betul-betul dibutuhkan mental yang baik bagi peserta didik. 

Itulah hebatnya Ujian Nasional,  yang ternyata telah mampu menciptakan tradisi-tradisi baru di sekolah. Sejauh tradisi yang dijalankan itu baik,  maka kita tidak perlu ragu untuk tetap menjaga dan menggalakkan, namun jikalau upaya kecurangan yang dijadikan senjata utama untuk dalam melampaui Ujian Nasional rasanya pendidikan kita memang telah dianggap tidak punya harga dan tak bermakna apa-apa.Ujian Nasional hanya dianggap sebagai tembok dan setiap peserta berlomba-lomba untuk melampauinya dengan segala macam cara, apapun itu resikonya. Pokoknya lulus. Itulah hal  yang sangat mengkhawatirkan kita semua.

Kriteria Kululusan 
Setiap peserta didik sudah barang tentu ingin mengakhiri masa pendidikannya di lembaga formal dengan embel-embel "lulus". Syukur lulus dengan prestasi terbaiknya. Oleh karenanya segala daya dan upaya dikeluarkan semua untuk melewati perjuangan lolos dari satuan tingkat pendidikan tertentu. Permasalahannya memang tidak semudah itu untuk dapat menerima kata "LULUS" tersebut. Berdasarkan POS UN 2012 yang diterbitkan oleh BSNP maka kelulusan peserta didik dapat diukur berdasarkan standar kelulusan dari satuan pendidikan atau sekolah atas dasar rapat Dewan Guru dengan menggunakan beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
2. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan;
3. Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan 
4. Lulus Ujian Nasional

Standar kelulusan untuk saat ini memang berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Perlu diingat bahwa nilai Ujian Nasional bukan satu-satunya penentu kelulusan, banyak faktor lain yang perlu dipahami untuk dapat mencapai standar kelulusan dari satuan pendidikan tertentu. Untuk standar kelulusan ujian nasional.pada dasarnya merujuk pada NA (Nilai akhir) yang merupakan gabungan Nilai S/M (sekolah/madrasah)  dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dengan Nilai UN,  dengan pembobotan 40% untuk Nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dan 60% untuk Nilai UN.


Pembelajaran diskriminatif

Adanya pola pembatasan aspek yang dievaluasi melalui kegiatan Ujian Nasional, yang hanya mengukur prestasi pada mata pelajaran tertentu yang di UN-kan, maka tak heran dampaknya adalah proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah menjadi tidak seimbang. Sekolah hanya fokus pada pengembangan ranah kognitif belaka. Setiap saat peserta didik di drill untuk mampu menyelesaikan tugas tertentu dengan harapan dapat memperlancar persiapan peserta didik menghadapi UN. Sekolah hanya mengejar angka-angka besar untuk nilai-nilai sebuah mata pelajaran tertentu.  Sementara aspek lain berupa sikap (budi pekerti luhur, sopan santun, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, demokratis dan bertanggung jawab) seolah-olah terlupakan. 

Boleh dikatakan bahwa UN yang ada  telah mengkotak-kotakan mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Mata pelajaran yang di UN-kan dirasa lebih memiliki nilai yang plus dibanding dengan mata pelajaran yang non UN. Sehingga apa yang terjadi adalah proses pembelajaran yang diskriminatif, yaitu pembelajaran yang cenderung lebih menekankan kepada mata pelajaran-mata pelajaran yang di UN-kan. Argumen ini bukan tak mendasar, dalam kondisi nyata memang telah terkesan demikian.

Sungguh ironis. Apalagi jika kita menengok fungsi dan tujuan pendidikan sebagaimana tercantum UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dimana pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan  membentuk  watak serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka  mencerdaskan  kehidupan
bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi  peserta  didik  agar  menjadi  manusia yang  beriman  dan  bertakwa  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat, berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta bertanggung jawab.

Sudah selayaknya apa yang terjadi ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi kita semua,  yaitu minimal mencoba mengingatkan kembali, terlebih dapat memberikan masukan yang sangat berarti bagi mereka-mereka para pengambil kebijakan tingkat atas tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertera dalam paragraf di atas.

Jika demikian mungkin kita perlu mendalami apa yang ditulis oleh Prof. Husaini Usman. Dalam sebuah buku karangannya beliau menuliskan bahwa keberhasilan lulusan bukanlah ditentukan oleh hebatnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki lulusan, tetapi lebih ditentukan oleh sikap yang dimilikinya. Banyak orang pandai tetapi sombong. Banyak tukang terampil, tetapi curang. Banyak orang pintar dan terampil, tetapi tidak jujur. Banyak orang cerdas tetapi culas. Oleh sebab itu yang utama dalam mendidik adalah mendidik hatinya karena hatinya pendidikan adalah pendidikan hati. Karena itu WR Supratman sebelum tahun 1945 telah mengingatkan para pendidik dengan membuat lagu Indonesia Raya yang syairnya antara lain berbunyi, "bangunlah jiwanya, bangunlah badannya". Maknanya adalah yang dididik itu jiwanya dulu baru otak dan ketrampilannya.

Terimakasih dan salam ..

Rabu, 18 April 2012

Stadion Kebumen Beralih Fungsi menjadi Pasar

Stadion Candradimuka adalah satu-satunya stadion yang ada di Kebumen dan berdiri sejak tahun 1992. Berbagai kegiatan olahraga banyak dipusatkan disini, semisal olahraga cabang atletik dan sepakbola tentunya. Banyak sarana dan prasarana yang ada, namun demikian beberapa diantaranya ada yang sudah tidak dapat difungsikan. Kondisi lapangan yang gundul, juga menambah keprihatinan kita tentang kondisi stadion yang menjadi kebanggaan warga Kebumen. 
Kawasan Stadion Candradimuka Kebumen
Di awal bulan April hingga pertengahan ini, suasana keramaian yang tak lazim terjadi dari pagi hingga menjelang petang di sekitar Stadion Candradimuka Kebumen. Namun apa yang terjadi, ternyata keramaian yang ada di stadion tersebut bukan karena adanya even atau kegiatan olahraga, namun stadion ini akan difungsikan sementara secara khusus untuk ribuan pedagang yang akan berjualan di lokasi tersebut. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana nasib stadion ? Stadion Candradimuka saat ini bukan lagi sebagai sarana untuk olahraga, tetapi kini menjadi sarana untuk jual beli. Dunia olahraga Kebumen sudah sepantasnya turut berduka. 

Memasuki jalan Arumbinang, mendekati stadion ratusan bangunan kios-kios baru bermunculan di pinggir kiri kanan jalan. Pedagang juga membangun kios yang mengelilingi stadion bagian luar, dan sebagian besar lapak-lapak dibangun di area lapangan sepak bola, termasuk area lintasan lari. Hampir seluruh bidang yang ada di stadion ini dimanfaatkan untuk penyediaan lapak-lapak bagi pedagang.
Pintu masuk stadion sebelah utara
Beralihfungsinya stadion menjadi lokasi pedagang Pasar Tumenggungan Kebumen untuk sementara waktu ini, sudah barang tentu ada beberapa alasan yang mendasar. Pemerintah daerah Kebumen memang sedang mempersiapkan program revitalisasi pasar Tumenggungan dengan konsep pasar yang modern. Anggaran yang dibutuhkan untuk merealisasikan konsep tersebut berkisar 48 miliar. Banyak  kesulitan yang muncul terkait dengan relokasi para pedagang tersebut, sehingga alternatifnya adalah dengan "mengorbankan" dunia olahraga Kebumen sementara waktu.
Area lapangan sepakbola rusak, penuh lapak
Sampai saat ini, kios-kios dan ruko di Pasar Tumenggungan Kebumen, sudah banyak dikosongkan. Namun demikian, masih ada beberapa pedagang yang tetap berjualan di kawasan pasar Tumenggungan ini. Hal ini karena masih ada proses penyiapan dan pembuatan lapak atau beberapa kios yang belum siap untuk ditempati. Jarak antara pasar Tumenggungan dengan stadion sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya berkisar 1 kilometer saja, namun untuk mengatur ribuan pedagang bukanlah pekerjaan kecil yang dapat diabaikan begitu saja.
Ruko di pasar Tumenggungan  dikosongkan
Semoga cepat terealisasi pasar harapan warga Kebumen dan optimalkan lagi stadion warga Kebumen. Terimakasih ..

Kamis, 12 April 2012

Soal Kewirausahaan #29 (Soal Ujian Akhir Sekolah)

Berikut ini adalah soal UAS Kewirausahaan untuk SMK Bisnis dan Manajemen :


1.      Tanggungjawab seorang wirausaha terhadap nasib dan tujuan usahannya disebut……
a.       Destiny*
b.      Dream
c.       Dedication
d.      Derotion
e.      Responsibility
2.       Seorang wirausaha yang bekerja dengan sungguh-sungguh dengan hati yang tulus disebut ……
a.       Kerja keras
b.      Kerja cerdas
c.       Kerja ikhlas*
d.      Kerja tuntas
e.      Kerja mawas

Baca selengkapnya

Selasa, 03 April 2012

Kuliah Umum Sri Edi Swasono

Hari Sabtu, di akhir bulan Maret tepatnya tanggal 31 Maret 2012. Ketika fajar datang, sekitar pukul 04.30 saya dan tiga teman lainnya sudah siap meluncur menuju kota gudeg, Yogyakarta. Semangat baru di akhir bulan Maret, karena ada kegiatan yang sangat penting yaitu mengikuti  kuliah umum dari Prof. Dr. Sri Edi Swasono, seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga menjadi Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa.

Prof. Dr. Sri Edi Swasono adalah ekonom yang banyak berkecimpung di dunia koperasi, tampaknya klop sekali dengan cita-cita luhur Bung Hatta yang juga menjadi pionir koperasi di Indonesia yang sekaligus menjadi mertua beliau. Lahir di Ngawi, Jawa Timur tanggal 16 September 1940, saat ini sudah berumur 72 tahun.  Namun sosok beliau masih tetap segar, energik dan terlihat awet muda seperti beberapa puluhan tahun silam ketika saya mengikuti acara serupa di Semarang.
Sri Edi Swasono (pdk.or.id)

Tampaknya kegiatan kuliah umum ini sangat menarik banyak perhatian, sehingga hampir seluruh kursi yang disediakan penuh. Bahkan banyak peserta harus rela duduk disekitar pintu masuk untuk mengikuti kuliah umum dari Prof. Dr. Sri Edi Swasono ini. Tepat pukul 09.00 protokol memberikan waktu khusus kepada beliau untuk memulai dan segeralah beliau menuju mimbar dengan santai.  Melihat beberapa orang yang ada di luar dan sangat antusias untuk mengikuti kuliah umum maka kini Prof. Dr. Sri Edi Swasono justru yang mengatur protokol. Sang protokol disarankan untuk menggeser meja kedepan dengan bantuan peserta sehingga akhirnya ada ruang kosong yang dapat menampung beberapa peserta yang ada di luar. "Nah, itulah ko-operasi. Melalui ko-operasi, dengan kerjasama semua menjadi mudah." Itu komentar singkatnya.

Beberapa catatan penting yang setidaknya sedikit saya pahami adalah tentang doktrin kerakyatan. Menurut beliau bahwa doktrin kerakyatan berkaitan dengan keutamaan "Daulat Rakyat", bahwa kepentingan rakyat adalah primus, bahwa pemerintahan Negara dijalankan atas kehendak dan kepentingan rakyat, bahwa "Tahta adalah untuk Rakyat". Dengan demikian posisi rakyat adalah sentral-substansial. Selanjutnya beliau mengemukakan  berbagai keprihatinan nasional melalui pertanyaan-pertanyaan berikut :
Pertama, mengapa pembangunan yang terjadi di Indonesia ini menggusur orang miskin dan bukan menggusur kemisikinan ? Akibatnya pembangunan, sebagai kepanjangan kapitalisme global telah menjadi proses dehumanisasi.
Kedua, mengapa yang terjadi sekedar pembangunan di Indonesia dan bukan pembangunan Indonesia ? Orang mancanegara yang membangun Indonesia dan menjadi pemegang konsesi bagi usaha-usaha ekonomi strategis, sedang orang Indonesia menjadi penonton atau menjadi jongos globlalisasi.
Ketiga, mengapa "daulat pasar" dibiarkan begitu saja berkuasa, sehingga menggusur "daulat rakyat". Beginilah ekonomi yang berdasar pemujaan pada pasar.
Keempat, bukankah seharusnya kita menjadi Tuan di Negeri sendiri, menjadi "The Master in our own Homeland, not just to become the Host", yang hanya melayani kepentingan globlalisasi dan mancanegara ? Lalu mengapa kita tetap menjadi koeli di Negeri Sendiri, sekedar menjadi master of ceremony : mengantar tamu-tamu asing duduk di kursi VIP, mengedarkan daftar hidangan, mengobral sumber daya alam, menjual masa depan, dan yang sejenisnya.
Kelima, kesejahteraan rakyat yang tidak kunjung tercapai, kesenjangan antara kaya dan miskin makin meningkat. 
Keenam, kesenjangan antara kaya dan miskin yang pada akhirnya dapat membentuk kesenjangan frustasi pada pihak si miskin. 

Dalam kesempatan selanjutnya beliau juga mengemukakan tentang Nasionalisme dan Globalisasi, yang pada intinya mengharap agar para pemuda-pemudi tidak termakan oleh globlalisasi yang dapat melumpuhkan semangat nasionalisme kita. Terkait dengan ekonomi rakyat beliau menjelaskan bahwa ekonomi rakyat adalah wujud dari ekonomi yang berbasis rakyat (people-based economy) dan ekonomi terpusat pada kepentingan rakyat (people-centered economy) yang merupakan inti dari Pasal 33 UUD tahun 1945, terutama ayat (1) dan ayat (2).

Hal yang paling menarik dari kuliah umum beliau adalah saat beliau mengemukakan Bupati-Bupati Inlander atau dalam bahasa yang lebih mudah adalah Bupati-Bupati Keblinger. Dijelaskan bahwa ada Bupati yang dengan bangganya mampu menghadirkan resto foreign-franchise di sekitar alun-alun, padahal tanpa disadari hal ini telah menurunkan pangkat kemegahan lokal alun-alun yang umumnya dikelilingi Masjid Agung dan beberapa kantor pemerintahan. Prof. Dr. Sri Edi Swasono menyebut bahwa bupati tersebut masih inlander, mudah terkagum-kagum pada investor namun lupa akan rakyatnya. Bagi Bupati modernisasi adalah westernisasi, mengagumi investor asing, namun lengah baginya yaitu akan tugas kerakyatannya. Berapa uang rakyat yang akan tersedot dengan hadirnya resto cepat saji, sebesar itu pula uang yang tidak dibelanjakan pada jajanan pasar dan makanan lokal lain buatan rakyat. 

Belum lagi banyak kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada investor asing dengan mendirikan berbagai mall, supermarket, hotel mewah dan pemukiman super mewah yang harus dilaluinya dengan menggusur tanah-tanah rakyat walaupun dengan ganti rugi. Namun beberapa  kemudahan pembangunan tersebut pada dasarnya telah menggusur orang miskin, bukan menggusur kemiskinan.
Akhirnya applause panjang yang luar biasa menutup kuliah umum. Terimakasih Prof. Edi ...

Panorama Pantai Menganti

Dalam sebuah kesempatan saya menemani dua orang tamu dari Malang, dalam rangka melakukan pendampingan sebuah program di sekolah. Usai kegiat...