Budaya Antri dan Hilangnya Nilai-nilai Sosial

Selasa, 08 November 2011 ·

Idul Adha berlalu, segenap pikiran dan tenaga telah tercurah untuk perhelatan khusus penyembelihan  hewan kurban di tahun 2011 ini. Kegiatan yang diawali dari perekrutan peserta, pencarian hewan kurban, update data calon penerima daging, penyiapan kupon pengambilan daging kurban sampai pada distribusi daging kurban kini hanya meninggalkan sepenggal cerita. Kebahagiaan terpencar pada setiap warga karena hampir sebagian besar warga dapat menikmati daging kurban dari beberapa peserta kurban. 

Penggalan cerita kebahagiaan akhirnya sirna juga seketika timbul masalah kecil dalam prosesi pembagian daging kurban yang menggunakan kupon. Rasa keprihatinan dan kekecewaan yang mendalam patut kami sampaikan atas rendahnya budaya antri masyarakat kita ini.  Walaupun kami telah menyiapkan kupon dan daging dalam jumlah yang cukup banyak namun ternyata banyak diantara warga saling sikut dan saling dorong untuk mendapatkan urutan terdepan dalam antrian. Sebuah kebiasaan yang pantas kami sesalkan, karena dorongan dan desakan warga calon penerima daging akhirnya beberapa kali kami harus memperbaiki pagar pembatas antara area panitia dengan warga luar yang mendapat kupon.
Antri daging kurban (suarakomunitas.net)
Sungguh suatu hal yang memalukan walaupun tidak sempat terjadi keributan yang besar untuk mendapatkan daging kurban, namun setidaknya kejadian dorong-dorongan sesama warga menjadi sebuah catatan bahwa ternyata rasa sikap saling memahami dan menghargai diantara warga sudah sangat berkurang. Budaya antri seharusnya menjadi acuan bagi warga, mendahulukan mereka yang datang lebih awal adalah bentuk penghargaan dan rasa hormat kepada mereka yang lebih memiliki hak untuk didahulukan. Namun apa yang terjadi saat ini adalah sebuah hal yang pantas untuk kita sesalkan.

Budaya antri  masyarakat kita yang sangat rendah ini pula dapat mencerminkan karakter masyarakat kita yang sesungguhnya, yaitu masyarakat yang kini mulai kehilangan nilai-nilai sosialnya. Tren atau kecenderungan masyarakat kita sekarang kini mulai tersentuh dengan nilai-nilai yang bukan berakar dari bumi pertiwi yaitu sikap individualistik dan materialistik yang selalu mengagungkan akan sikap egois, menang sendiri dan materi. 

Sebuah tayangan di stasiun televisi memberikan gambaran yang lebih parah lagi, hasil dari perolehan daging kurban justru mereka tukarkan dengan uang kepada para penadah daging kurban. Semangat berkurban untuk saling berbagi ternyata banyak disikapi berbeda, penyembelihan hewan kurban ternyata menghasilkan peluang bisnis yang diluar kewajaran. Ini hanya secuil catatan saya, sebuah cerita tentang rendahnya budaya antri dan hilangnya nilai-nilai sosial dari masyarakat kita. Maka tak heran jika kita sering menjumpai tulisan-tulisan yang berupa slogan tentang budaya antri kita yang di-komparasikan dengan antrian beberapa ekor itik yang berbaris rapi.

10 komentar:

Posting Komentar

Komentar harap menggunakan bahasa yang baik dan sopan. Terima kasih

About Me

Foto Saya
Rasimun Way
Lahir di Karangsambung,Kabupaten Kebumen, besar di Cepu dan Semarang. Aktivitas di SMK Negeri 1 Ambal, Kebumen. Bertempat tinggal di Kutosari, Kebumen. Email : denrasimun@gmail.com
Lihat profil lengkapku

Daftar Isi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers

 
Top

Rasimun Way | Copyright © 2011 All right reserved.
Red Eleganisme Blogger Template | Designed By Serba Blog