Minggu, 22 Mei 2011

Kick Andy : Ke Tanah Air Kami Kembali


kick andy
Bekerja sebagai  intelektual atau  ilmuwan  di luar negeri  sering  dinilai  sebagai  sebuah  kebanggaan dan  lebih  menjanjikan, ketimbang  berkarir di tanah  air. Tapi kenapa nara  sumber  Kick  Andy  yang  berikut ini lebih memilih  pulang kampung  disaat mereka  berjaya  di   negeri  orang? “Tantangan  di  sini lebih  nyata bagi saya,”  ujar  Warsito Purwo Taruno, doktor ahli  tomografi  yang sempat  menjadi  peneliti papan atas  di Ohio University, Amerika Serikat.
Warsito, lahir dari keluarga sederhana. Sejak kecil ia   harus  membantu  ayahnya di sawah. Karena keterbatasan biaya, Warsito gagal berkuliah di  jurusan kimia, UGM. Ia kemudian mendaftar beasiswa ke Jepang dan dan lulus. Di Universitas Shizuoka, Jepang,  ia menyelesaikan pendidikannya sampai meraih gelar doctor.  Setelah lulus, ia kemudian menjadi  ahli  tomografi  di  Jepang. Warsito kemudian sempat pindah ke Amerika Serikat dan menjadi salah satu peneliti  papan atas di Ohio University.
Dalam  citra  dan kesuksesan itu, rasa  nasionalisme Warsito   kembali tergugah. Anak  dari  lereng  Gunung Lawu, Jawa Tengah  itu akhirnya  memutuskan  pulang kembali  ke tanah air  di tahun  2006.  Ia  meninggalkan laboratorium  besar di  Amerika  dan memilih mengembangkan Ctech labs  Edwar Technolgy, sebuah laboratorium  yang  mengisi  sebuah  ruko  di kawasan Tangerang, Banten.  
Begitu  juga hal nya  dengan Udaya Halim. Seorang pejuang  kehidupan  dan pendidikan asal Tangerang, Banten.
Masa  kecil udaya halim  adalah  sebuah perjuangan. Udaya   hanya seorang  anak  yang  hanya  bersekolah sampai  SMP setelah itu, anak  ke 4 dari  8 bersausara itu harus menjadi  pelayan  toko di Pasar Baru.
Meski  putus  sekolah, udaya tak  memupus  harapannya  untuk   belajar, terutama  belajar  bahasa  inggris. Dengan  memilah-milah  uang  sakunya, ia   bisa memenuhi keinginannya  untuk membayar  kursus bahasa inggris.
Dengan perjuangan yang tak mudah, akhirnya  udaya  bisa  berangkat dan  belajar  bahasa  inggris  di   sekolah bahasa di Bournemouth yg bernama King’s.  Dengan  upaya  keras juga, akhirnya Udaya memiliki  lembaga  kursus yang diberi nama  King’s English  Course.  Dan di  tahun 1992 lembaga  ini  resmi menjadi perwakilan resmi King’s England. Bukan saja menjadi perwakilan di indonesia, tetapi juga menjadi business alliance, bahkan lembaga itu kini menjadi satu-satunya pemilik IBEC yang menjadi perwakilan resmi dari 25 universitas terkemukan di Inggris.
Saat kerusuhan  terjadi  tahun 1997, Udaya  dan keluarga  terpaksa hijrah ke Perth, Australia. Disana  ia  belajar dan  membuka usaha  hingga sukses.
Meski punya pengalaman buruk  dengan  kerusuhan  tahun 1997 itu,  tapi  Udaya tetap menunjukkan kecintaannya pada Indonesia.
Ia kembali ke tanah  air  tahun 2004 lalu, kemudian  mendirikan sekolah yang  diberi nama Prince’s Creative School dan menjadi konsultan bagi anak-anak yang bermasalah. Ia bahkan  menjual sahamnya di beberapa institusi di Perth, dimana ia menjabat sebagai direktur agar dapat lebih fokus mengembangkan sekolah ini.
Selain  itu, Udaya merasa terpanggil untuk menyelamatkan bangunan bersejarah di  dekat  kelenteng  Boen Tek Bio di  kawanan  cina benteng, tangerang, yang ia akan jadikan museum benteng heritage.
Sementara  itu seorang  pria  asal Kota  Apel Malang, Jawa  Timur,  yang  memiliki karir cemerlang  di  kota  big apel, New York, Amerika  Serikat,  tiba –tiba memutuskan  berhenti dan  pulang  ke kampung  halamannya.
“Waktu  saya memutuskan berhenti dan kembali ke Indonesia  banyak yang Tanya, are you  crazy? “ ujar  Iwan saat tampil di Kick  Andy. Dengan  tenang,  Iwan menceritakan bahwa tujuannya  bekerja  sampai  ke New York, adalah  untuk mencari  uang  agar  bisa memiliki kamar  tidur  sendiri.  Ini  adalah obsesi terbesarnya.  Maklum,  iwan  adalah  keluarga  sederhana, ayahnya  yang hanya  sopir angkot  tak  cukup  dana untuk bisa membuatkan  kamar yang layak  untuk anak-anaknya.  Iwan    tinggal  di  rumah berukuran enam kali tujuh meter, dimana ia harus berbagi tempat dengan  orang tua dan empat saudari perempuannya.
Dengan susah  payah dalam  masalah pembiayaan,  Iwan  bisa  lulus  sekolah  bahkan  kuliah  di  IPB, Bogor.  Dan dalam kurun  waktu  4 tahun, kuliahnya selesai dan  menjadi  lulusan terbaik di tahun 1997.
Berkat upaya  dan keinginan kuat untuk keluar dari kemiskinan keluarganya, ia berhasil mendapatkan pekerjaan di Amerika sebagai Senior manager operations. Selama sepuluh tahun  menitih karier di negeri Paman Sam, ia akhirnya  bisa  menduduki jabatan bergengsi yaitu sebagai direktur internal client management data analysis and consulting nielsen consumer research New York, Amerika Serikat.
Meski  dalam  perjalanan karir yang  demikian bagus, tapi  iwan  memilih  jalannya  sendiri . Iwan tinggalkan  kota Big Apel New York, dengan segala kemeriahannya  dan  memilih kembali ke kota Apel  Malang,  Jawa  Timur.  “Di sini, saya  ingin berterimakasih pada semua  orang yang mendukung saya. Dan saya ingin melakukan sesuatu yang  touch people,”  tegasnya.
sumber : kickandy

Tidak ada komentar:

Panorama Pantai Menganti

Dalam sebuah kesempatan saya menemani dua orang tamu dari Malang, dalam rangka melakukan pendampingan sebuah program di sekolah. Usai kegiat...