Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

Urgensi Pendidikan Kecakapan Hidup

Dalam buku petunjuk tentang pendidikan kecakapan hidup atau sering di sebut dengan istilah life skills, disebutkan bahwa menurut Broling (1989) “Life Skills” adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Broling mengelompokkan Life Skills kedalam tiga kelompok kecakapan yaitu, kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), kecakapan pribadi/sosial (personal/social skill) dan kecakapan untuk bekerja (occupational skill).

Penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup dapat diterapkan pada lembaga pendidikan informal berupa tempat kursus ataupun lembaga pendidikan formal dalam hal ini sekolah. Pendidikan kecakapan hidup merupakan upaya nyata untuk mendidik dan melatih warga masyarakat agar menguasai bidang-bidang keterampilan tertentu sesuai dengan kebutuhan, bakat-minat, dan peluang kerja/usaha mandiri yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja baik di sektor formal maupun informal sesuai dengan peluang kerja (job opportunities) atau usaha mandiri.

Salah satu bentuk pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup di sekolah khususnya untuk program keahlian Tata Boga yaitu pemberian pendidikan dan pelatihan pembuatan berbagai produk makanan ringan, aneka kue kering dan berbagai makanan Indonesia ataupun Kontinental. Setiap peserta didik diharapkan mampu menguasai seluruh kompetensi yang ada baik secara teori sampai pada pembuatan produk nyata. Pada proses evaluasi kegiatan ini dalam bentuk Uji Kompetensi, sekolah dapat bekerja sama dengan dunia usaha/dunia industri (DUDI) yang terkait. 

Sebagai media pengembangan kegiatan pendidikan dan pelatihan maka perlu wadah berupa unit produksi. Unit produksi inilah yang akan mengelola beberapa produk dari peserta didik untuk dipasarkan pada masyarakat umum. Dalam pelaksanaannya maka peserta didik dituntut memiliki rasa bertanggung jawab, semangat, kerja keras, cekatan dan kreativitas. Melalui unit produksi ini peserta didik dilatih untuk mampu menguasai beberapa kompetensi, dari penentuan pembiayaan, pembuatan produk sampai pada proses distribusi produk.
Produksi aneka kue kering peserta didik
Harapan terakhir, seusai lulus dari sekolah asal maka setidaknya peserta didik telah mempunyai kecakapan hidup (life skills) dan berbagai kompetensi yang dapat dikembangakan dalam hidup di masyarakat dalam bentuk berwirausaha atau usaha mandiri. Inilah urgensi pendidikan kecakapan hidup yang telah dikembangkan oleh Kemendikbud beberapa tahun silam. 

Salam .. 

Jumat, 27 Juli 2012

UKG - Uji Kompetensi Guru


Guru mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional. Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Oleh karenanya guru selalu dituntut untuk selalu mengembangkan diri selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Tidak semua orang dapat menjadi guru, kualifikasi akademik dan kompetensi guru pun telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 2007. UKG (Uji Kompetensi Guru) yang saat ini banyak dibicarakan adalah salah satu bentuk untuk  memetakan penguasaan kompetensi guru sebagai dasar pertimbangan pelaksanaan program pembinaan dan pengembangan profesi guru. Hal ini terkait juga dengan adanya pelaksanaan penilaian kinerja guru, jadi UKG dapat dijadikan sebagai entry point dalam penilaian kinerja guru.

Dalam UKG, kompetensi yang diujikan adalah kompetensi Pedagogik dan Profesional. Bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui Kisi-kisi Uji Kompetensi Guru dapat melihat di KISI-KISI UKG.

Salam ..

Senin, 28 Mei 2012

2013, Berlaku Pendidikan Menengah Universal


Mencermati sambutan Mendikbud pada peringatan Hari Pendidikan 2 Mei 2012, bertemakan Bangkitnya Generasi Emas Indonesia tampaknya ada hal yang sangat menarik terutama terkait dengan kondisi bangsa kita pada periode 2010 sampai 2035 yang dianugrahi “Bonus Demografi”.  Salah satu kebijakan pemerintah berupa Penyiapan Pendidikan Menengah Universal yang direncanakan akan berlaku mulai tahun 2013.

Beberapa hal yang perlu kita pahami dari pernyataan diatas adalah, (1) Mengapa program Pendidikan Menengah Universal disiapkan; (2) Apa sebenarnya yang dinamakan dengan Program Pendidikan Menengah Universal itu ?; 

Pemikiran Program Pendidikan Menengah Universal (1)
Salah satu program pemerintah orde lama yang masih dipertahankan sampai saat ini adalah program Keluarga Berencana (KB). Keberhasilan program KB berupa turunnya pertumbuhan penduduk menjadi sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Akibatnya jelas, dari keberhasilan program tersebut maka terjadi perubahan struktur umur penduduk, yaitu adanya peningkatan jumlah penduduk yang berada dalam usia produktif. Sementara di sisi lain jumlah penduduk yang ada dalam usia non-produktif mengalami penurunan.

Kondisi seperti di atas sering di kenal dengan bonus demografi. Bonus demografi ini sesungguhnya suatu kesempatan yang sangat langka. Mencermati kondisi tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)  menempatkan Pendidikan Menengah Universal (PMU) 12 tahun sebagai agenda yang harus dilaksanakan mulai tahun 2013. Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Kementerian Koordinator Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat, Selasa (6/3), Mendikbud menjelaskan :

Pendidikan Menengah Universal 12 Tahun ditempuh untuk menjaring usia produktif di Indonesia. Menteri Nuh menyampaikan terdapat bonus demografi untuk Indonesia pada tahun 2010 sampai dengan 2035. Artinya, sepanjang rentang tahun ini terdapat kumpulan peserta didik usia yang potensial dan produktif  (http://www.kemdiknas.go.id/laman/berita/279)

Pada periode bonus demografi ini pemerintah akan melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber  daya manusia (SDM) sebagai upaya menyiapkan generasi 2045, yaitu 100 tahun Indonesia merdeka. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan akses seluas-luasnya kepada seluruh anak bangsa untuk memasuki dunia pendidikan; mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai ke perguruan tinggi.

Apakah Pendidikan Menengah Universal itu ? (2)
Seperti yang tercantum pada Pasal 11 ayat (1) UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Oleh karenanya setiap warga Negara Indonesia mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

Dalam Pasal 17 Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 disebutkan pula bahwa ayat (1) pendidikan  dasar  merupakan  jenjang  pendidikan  yang  melandasi  jenjang pendidikan menengah. Ayat (2) tertulis bahwa pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

Saat negara kita diberikan anugrah bonus demografi maka salah satu upaya pemerintah untuk mencermatinya adalah munculnya kebijakan Program Pendidikan Menengah Universal. Lalu Apakah  Pendidikan Menengah Universal itu  ?
Program pendidikan menengah universal tidak jauh beda dengan program pemerintah wajib belajar 12 tahun. Setelah sekian lama program wajib belajar 9 tahun berjalan, akhirnya akan diimplementasikan program wajib belajar 12 tahun. Dalam bahasa yang singkat pemerintah telah membuat kebijakan yaitu mewajibkan pendidikan bagi peserta didik minimal sampai pada tingkatan sekolah menengah, baik itu SMA/MA ataupun SMK.

Dalam Pasal 18 Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan bahwa (1) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar; (2) Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. (3) Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. 

Pendidikan menengah (sebelumnya dikenal dengan sebutan sekolah lanjutan tingkat atas atau SLTA) adalah jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah umum diselenggarakan oleh sekolah menengah atas (SMA) (sempat dikenal dengan "sekolah menengah umum" atau SMU) atau madrasah aliyah (MA). Sedangkan pendidikan menengah kejuruan diselenggarakan oleh sekolah menengah kejuruan (SMK) atau madrasah aliyah kejuruan (MAK). Pendidikan menengah kejuruan dikelompokkan dalam bidang kejuruan didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni, dunia industri/dunia usaha.

Gagasan program Pendidikan Menengah Universal tersebut dilandasi kesadaran pemerintah untuk jumlah lulusan SMA/MA atau SMK dan yang sederajat  di segenap penjuru di tanah air. Dengan program pendidikan menengah universal, diharapkan lulusan SMA/MA atau SMK semakin meningkat sehingga secara usia dan kompetensi mampu bersaing di dunia kerja.

Referensi :
-Teks Sambutan Mendikbud pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2012

Minggu, 20 Mei 2012

Cara Positif Rayakan Kelulusan

Berdasarkan POS UN 2012 dalam beberapa hari kedepan, tepatnya tanggal 26 Mei 2012 (untuk SMA/MA, SMK dan yang sederajat) akan diumumkan kelulusan hasil UN 2012. Sudah barang tentu kita semua berharap agar hasil pengumuman tersebut membawa kabar yang menggembirakan bagi semua peserta ujian nasional. Kebahagiaan bagi peserta ujian yang lulus ujian ini juga sekaligus menjadi kebahagian bagi bapak ibu guru yang selama beberapa tahun mendampingi peserta didik dalam proses pembelajaran.

Namun demikian, ada hal-hal yang kurang baik dilakukan oleh peserta didik yang telah lulus ujian. Ketika pengumuman tiba dan dinyatakan lulus, maka respon negatif masih sering dilakukan. Mereka telah menjadikan corat-coret seragam sebagai budaya yang tak pantas dijadikan tauladan bagi peserta didik lain khususnya bagi peserta didik yag masih ada ditingkat bawahnya. Kegiatan corat-coret seragam terkesan tak bermanfaat sama sekali dan cenderung ugal-ugalan.Terkait budaya corat-coret seragam sekolah saat kelulusan dapat anda lihat pada  Budaya Corat-Coret Seragam Sekolah Saat Kelulusan.    

Karena secara manfaat tidak ada yang dapat diperoleh dari aksi corat-coret tersebut, maka sebenarnya kebahagiaan atas kelulusan dari ujian nasional itu dapat dikonsep dengan kegiatan-kegiatan yang bernilai positif. Beberapa kegiatan-kegiatan sebagaimana yang dimaksud adalah :

Gelar Seni atau Pentas Seni

Menyelenggarakan pentas seni dilingkungan sekolah akan menjadi daya tarik bagi siswa yang telah lulus dan menjadi sarana bagi siswa untuk mengekspresikan kebahagian usai lulus. Melalui kegiatan ini pula siswa dapat menikmati suasana hiburan yang bervariatif dari bermacam tampilan gelar seni.

Pengumpulan Seragam Bekas
Aksi pengumpulan seragam bekas bagi siswa yang telah lulus mengajarkan kita untuk bisa berbagi dengan orang lain yang sekiranya lebih membutuhkan, daripada harus dicorat coret bahkan disobek-sobek. Kegiatan ini dapat melatih siswa untuk lebih respek terhadap kondisi lingkungan sosial disekitarnya.  

Berwisata Bersama

Sarana untuk melepas kebahagiaan akan lebih indah manakala siswa yang telah lulus dapat mengadakan wisata bersama, melepas segala beban yang dimulai dari kegiatan try out, pelaksanaan  Ujian Nasional hingga jeda waktu menunggu pengumuman Ujian Nasional. Pelaksanaan pengumuman kelulusan ujian nasional dengan menggunakan konsep ini maka siswa dapat dibawa ketempat tertentu untuk menikmati berbagai wisata.
Siswa santai dengan kegiatan wisata

Ceramah Keagamaan
Mengundang  Ustadz untuk memberi bekal tentang pentingnya bersyukur kepada Allah SWT  kepada siswa yang telah lulus dapat menjadi alternatif bagi siswa dalam menghadapi masa depannya. Siraman rohani dapat memberikan sentuhan moral yang baik bagi siswa, termasuk dapat membentuk karakter siswa.

Bagi-bagi Nasi Bungkus/Dus
Kegiatan membagi-bagi nasi bungkus atau nasi dus bagi pihak-pihak yang lebih membutuhkan, mohon maaf semisal kepada abang becak, andong dan lain-lainya mengajarkan kepada kita semua tentang peran kita sebagai makhluk sosial harus saling membantu. Saling bantu membantu akan mengajarkan kepada kita bahwa manusia yang satu dengan manusia lain saling ada ketergantungan.

Aksi Donor Darah
Melakukan donor darah juga merupakan kegiatan yang sangat positif, secara prinsip siswa diajarkan untuk saling berbagi dengan orang lain yang sangat membutuhkannya.

Mengadakan Bazar/Pasar Murah
Kegiatan ini perlu direncanakan jauh-jauh sebelumnya, karena kegiatan ini harapannya dapat menggaet sponsor yang dapat membantu pelaksanaan kegiatan bazar atau pasar murah ini. Membantu pihak-pihak yang lebih membutuhkan akan kebutuhan-kebutuhan pokok dengan memberikan harga miring produk tertentu akan lebih berarti bagi masyarakat sekitar.

Senin, 14 Mei 2012

Berapa Kecepatan Mengetik Anda ?

Mengetik ( typing ) dokumen merupakan aktivitas rutin sebagian besar dari pekerjaan yang kita hadapi. Pekerjaan ini sangat membutuhkan ketelitian dan kecermatan serta kerapihan,  harapannya adalah apa yang kita ketik dapat dibaca oleh pihak-pihak lain yang membutuhkannya. Banyak orang dapat mengetik, namun banyak juga diantara mereka yang tidak memahami tentang teknik mengetik yang baik.  Mengetik dengan menggunakan sistem mengetik yang baik maka hasik ketikannya akan cepat dan tepat serta meminimalisir kesalahan.
Keyboard (typing-lesson.org)
Diantara sistem mengetik yang ada yaitu sistem mengetik sepuluh jari (ten fingers system)sistem buta (blind system) dan sistem berirama (rythem system), sistem yang pertama atau sistem sepuluh jari adalah sistem mengetik yang paling populer.  Dalam sistem sepuluh jari, kita harus menggunakan jari-jari yang kita miliki dengan mengetahui fungsi kerja  masing-masing jari, selengkapnya baca Mengenal Fungsi Jari dalam Mengetik. 
Setelah mengenal fungsi jari-jari dalam mengetik, maka sebagai upaya diri kita untuk dapat meningkatkan hasil ketikan yang baik dan tepat kita dapat melakukan latihan-latihan rutin. Jikalau ingin belajar lebih ekstra lagi guna meningkatkan kecepatan mengetik maka saat ini sudah banyak sekali cara yang digunakan untuk mengukur kecepatan mengetik kita. Bagi yang sudah memahami mungkin hal ini sudah bukan hal yang asing lagi, namun bagi kita yang belum pernah sama sekali mengenal model cara pengukuran kecepatan mengetik akan sangat berguna sekali. 
Kita akan diberikan waktu selama 60 detik dan dimonitor sudah tersedia beberapa kata yang harus kita ketik. Ketika waktu terus berjalan, maka kita harus tetap konsentrasi untuk melakukan pengetikan dengan 10 jari yang baik, dan pandangan tetap pada monitor bukan pada gerakan jari-jari kita. Insyaallah dengan semakin banyak frekuensi latihan mengetik sistem 10 jari maka jari-jari kita akan terbiasa menjalankan fungsinya tanpa kita melihat keyboard. Perlu pembiasaan terus menerus sehingga akhirnya dapat mengetik dengan baik dan tepat serta cepat.
Jikalau anda sudah tidak sabar lagi untuk menguji berapa sebenarnya kecepatan mengetik anda ? Maka sebaiknya anda segera buka saja link berikut Tes Mengetik. Kecepatan mengetik yang anda coba akan ada score-nya dan ada pula rankingnya. 

Selamat mencoba dan salam ..

Selasa, 24 April 2012

Catatan 'Galau' tentang Ujian Nasional

Ujian Nasional yang telah dilaksanakan seminggu yang lalu, tepatnya dimulai tanggal 16 sampai 19 April 2012 untuk SMA, MA ataupun SMK. Minggu ini, mulai hari Senin sampai Kamis, 23 sampai 26 April 2012 telah dan sedang berlangsung Ujian Nasional bagi siswa SMP dan yang sederajat. Ujian Nasional  diselenggarakan dengan tujuan antara lain untuk mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan peserta didik secara nasional, sebagai hasil dari proses pembelajaran dan  sekaligus untuk memetakan tingkat pencapaian hasil belajar siswa pada tingkat sekolah dan daerah.

Sebelum pelaksanaan UN tersebut, sekolah sudah memiliki schedul berupa pelaksanaan Ujian Sekolah. Pelaksanaan Ujian sekolah ini sangat bervariatif, karena setiap satuan pendidikan memang diberikan keleluasaan dalam menyusun soal-soal ujian. Untuk mata pelajaran-mata pelajaran tertentu yang secara umum merupakan mata pelajaran yang di UN-kan soal-soal ujian sekolah biasanya dikendalikan dari K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah). Artinya dari teknis pembuatan soal-soal ujian sekolah tersebut sampai proses penggandaan dan distribusinya menjadi tanggung jawab K3S.

Disamping itu, kegiatan ujian praktik untuk beberapa mata pelajaran yaitu pendidikan agama dan pendidikan jasmani, olahraga/kesehatan masih mewarnai beberapa tahapan sebelum menempuh Ujian Nasional. Sebagai gongnya, boleh dikatakan Ujian Nasional ini menjadi satu-satunya momok bagi peserta didik. Walaupun saat ini UN tidak 100% menjadi faktor penentu kelulusan bagi peserta didik, namun harus diakui bahwa sejarah buruk telah tercipta di negeri ini dengan pelaksanaan UN tersebut. Banyak peserta didik yang tidak sadarkan diri, jiwanya menjadi labil akibat ketidaklulusan dalam mata pelajaran yang di UN-kan. 

Munculnya Tradisi Baru
Ujian Nasional tidak hanya membawa dampak yang kurang baik terhadap peserta didik, pihak sekolah pun secara langsung terkena imbasnya. Rasa ketakutan yang begitu berlebihan dari pihak sekolah sehingga memunculkan tradisi-tradisi baru di sekolah menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Bagaimana persiapan khusus dilakukan oleh sekolah, salah satunya adalah latihan-latihan soal atau try out yang telah dirancang khusus untuk mengkondisikan para peserta didik agar merasa lebih mantap dalam menghadapi ujian tersebut.

Try out jikalau boleh saya katakan sudah menjadi semacam tradisi. Hampir seluruh sekolah mempersiapkan kegiatan ini semata-mata untuk menghadapi Ujian Nasional.  Pada umumnya pelaksanaan try out dirancang setelah kegiatan pembelajaran rutin usai, penyelenggaraannya dapat di atur dengan model pendekatan menyerupai pelaksanaan Ujian Nasional. Tujuan kegiatan try out ini adalah sebagai sarana untuk melatih kesiapan mental peserta didik dan sekaligus untuk mengetahui perkembangan penguasaan materi peserta didik.

Sekalipun nilai Ujian Nasional bukan satu-satunya faktor kelulusan namun bukan rahasia lagi bahwa dengan kegiatan Ujian Nasional ini kredibelitas sekolah akan dipertaruhkan. Oleh karenanya segala usaha yang terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional betul-betul dipersiapkan secara matang. Pada tahapan selanjutnya tradisi yang selalu dijalankan dalam rangka pelaksanaan Ujian Nasional adalah adanya program pembahasan atau membedah soal-soal Ujian Nasional. Kegiatan ini lebih fokus kepada aspek teknis untuk menyelesaikan soal sehingga peserta didik lebih memahami dan mendalami berbagai jenis soal.

Tradisi terakhir menjelang pelaksanaan Ujian Nasional adalah pelaksanaan mujahadah. Entah siapa yang pertama memulai, namun mujahadah sudah menjadi tren dan cara yang baik untuk menyiapkan mental peserta didik. Terlepas dari pro dan kontra tentang pelaksanaan mujahadah menjelang Ujian Nasional kita harus mengakui bahwa peserta didik tidak hanya kita persiapkan secara akademis saja namun aspek spiritual juga tidak boleh ketinggalan. Meminjam istilah asing yaitu spiritual building harus tetap ditekankan karena pada saat pelaksanaan Ujian Nasional betul-betul dibutuhkan mental yang baik bagi peserta didik. 

Itulah hebatnya Ujian Nasional,  yang ternyata telah mampu menciptakan tradisi-tradisi baru di sekolah. Sejauh tradisi yang dijalankan itu baik,  maka kita tidak perlu ragu untuk tetap menjaga dan menggalakkan, namun jikalau upaya kecurangan yang dijadikan senjata utama untuk dalam melampaui Ujian Nasional rasanya pendidikan kita memang telah dianggap tidak punya harga dan tak bermakna apa-apa.Ujian Nasional hanya dianggap sebagai tembok dan setiap peserta berlomba-lomba untuk melampauinya dengan segala macam cara, apapun itu resikonya. Pokoknya lulus. Itulah hal  yang sangat mengkhawatirkan kita semua.

Kriteria Kululusan 
Setiap peserta didik sudah barang tentu ingin mengakhiri masa pendidikannya di lembaga formal dengan embel-embel "lulus". Syukur lulus dengan prestasi terbaiknya. Oleh karenanya segala daya dan upaya dikeluarkan semua untuk melewati perjuangan lolos dari satuan tingkat pendidikan tertentu. Permasalahannya memang tidak semudah itu untuk dapat menerima kata "LULUS" tersebut. Berdasarkan POS UN 2012 yang diterbitkan oleh BSNP maka kelulusan peserta didik dapat diukur berdasarkan standar kelulusan dari satuan pendidikan atau sekolah atas dasar rapat Dewan Guru dengan menggunakan beberapa kriteria sebagai berikut :
1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
2. Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan;
3. Lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan 
4. Lulus Ujian Nasional

Standar kelulusan untuk saat ini memang berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Perlu diingat bahwa nilai Ujian Nasional bukan satu-satunya penentu kelulusan, banyak faktor lain yang perlu dipahami untuk dapat mencapai standar kelulusan dari satuan pendidikan tertentu. Untuk standar kelulusan ujian nasional.pada dasarnya merujuk pada NA (Nilai akhir) yang merupakan gabungan Nilai S/M (sekolah/madrasah)  dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dengan Nilai UN,  dengan pembobotan 40% untuk Nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dan 60% untuk Nilai UN.


Pembelajaran diskriminatif

Adanya pola pembatasan aspek yang dievaluasi melalui kegiatan Ujian Nasional, yang hanya mengukur prestasi pada mata pelajaran tertentu yang di UN-kan, maka tak heran dampaknya adalah proses pembelajaran yang terjadi di sekolah-sekolah menjadi tidak seimbang. Sekolah hanya fokus pada pengembangan ranah kognitif belaka. Setiap saat peserta didik di drill untuk mampu menyelesaikan tugas tertentu dengan harapan dapat memperlancar persiapan peserta didik menghadapi UN. Sekolah hanya mengejar angka-angka besar untuk nilai-nilai sebuah mata pelajaran tertentu.  Sementara aspek lain berupa sikap (budi pekerti luhur, sopan santun, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, demokratis dan bertanggung jawab) seolah-olah terlupakan. 

Boleh dikatakan bahwa UN yang ada  telah mengkotak-kotakan mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain. Mata pelajaran yang di UN-kan dirasa lebih memiliki nilai yang plus dibanding dengan mata pelajaran yang non UN. Sehingga apa yang terjadi adalah proses pembelajaran yang diskriminatif, yaitu pembelajaran yang cenderung lebih menekankan kepada mata pelajaran-mata pelajaran yang di UN-kan. Argumen ini bukan tak mendasar, dalam kondisi nyata memang telah terkesan demikian.

Sungguh ironis. Apalagi jika kita menengok fungsi dan tujuan pendidikan sebagaimana tercantum UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dimana pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan  membentuk  watak serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka  mencerdaskan  kehidupan
bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya  potensi  peserta  didik  agar  menjadi  manusia yang  beriman  dan  bertakwa  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat, berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta bertanggung jawab.

Sudah selayaknya apa yang terjadi ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi kita semua,  yaitu minimal mencoba mengingatkan kembali, terlebih dapat memberikan masukan yang sangat berarti bagi mereka-mereka para pengambil kebijakan tingkat atas tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertera dalam paragraf di atas.

Jika demikian mungkin kita perlu mendalami apa yang ditulis oleh Prof. Husaini Usman. Dalam sebuah buku karangannya beliau menuliskan bahwa keberhasilan lulusan bukanlah ditentukan oleh hebatnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki lulusan, tetapi lebih ditentukan oleh sikap yang dimilikinya. Banyak orang pandai tetapi sombong. Banyak tukang terampil, tetapi curang. Banyak orang pintar dan terampil, tetapi tidak jujur. Banyak orang cerdas tetapi culas. Oleh sebab itu yang utama dalam mendidik adalah mendidik hatinya karena hatinya pendidikan adalah pendidikan hati. Karena itu WR Supratman sebelum tahun 1945 telah mengingatkan para pendidik dengan membuat lagu Indonesia Raya yang syairnya antara lain berbunyi, "bangunlah jiwanya, bangunlah badannya". Maknanya adalah yang dididik itu jiwanya dulu baru otak dan ketrampilannya.

Terimakasih dan salam ..

Selasa, 03 April 2012

Kuliah Umum Sri Edi Swasono

Hari Sabtu, di akhir bulan Maret tepatnya tanggal 31 Maret 2012. Ketika fajar datang, sekitar pukul 04.30 saya dan tiga teman lainnya sudah siap meluncur menuju kota gudeg, Yogyakarta. Semangat baru di akhir bulan Maret, karena ada kegiatan yang sangat penting yaitu mengikuti  kuliah umum dari Prof. Dr. Sri Edi Swasono, seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang juga menjadi Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa.

Prof. Dr. Sri Edi Swasono adalah ekonom yang banyak berkecimpung di dunia koperasi, tampaknya klop sekali dengan cita-cita luhur Bung Hatta yang juga menjadi pionir koperasi di Indonesia yang sekaligus menjadi mertua beliau. Lahir di Ngawi, Jawa Timur tanggal 16 September 1940, saat ini sudah berumur 72 tahun.  Namun sosok beliau masih tetap segar, energik dan terlihat awet muda seperti beberapa puluhan tahun silam ketika saya mengikuti acara serupa di Semarang.
Sri Edi Swasono (pdk.or.id)

Tampaknya kegiatan kuliah umum ini sangat menarik banyak perhatian, sehingga hampir seluruh kursi yang disediakan penuh. Bahkan banyak peserta harus rela duduk disekitar pintu masuk untuk mengikuti kuliah umum dari Prof. Dr. Sri Edi Swasono ini. Tepat pukul 09.00 protokol memberikan waktu khusus kepada beliau untuk memulai dan segeralah beliau menuju mimbar dengan santai.  Melihat beberapa orang yang ada di luar dan sangat antusias untuk mengikuti kuliah umum maka kini Prof. Dr. Sri Edi Swasono justru yang mengatur protokol. Sang protokol disarankan untuk menggeser meja kedepan dengan bantuan peserta sehingga akhirnya ada ruang kosong yang dapat menampung beberapa peserta yang ada di luar. "Nah, itulah ko-operasi. Melalui ko-operasi, dengan kerjasama semua menjadi mudah." Itu komentar singkatnya.

Beberapa catatan penting yang setidaknya sedikit saya pahami adalah tentang doktrin kerakyatan. Menurut beliau bahwa doktrin kerakyatan berkaitan dengan keutamaan "Daulat Rakyat", bahwa kepentingan rakyat adalah primus, bahwa pemerintahan Negara dijalankan atas kehendak dan kepentingan rakyat, bahwa "Tahta adalah untuk Rakyat". Dengan demikian posisi rakyat adalah sentral-substansial. Selanjutnya beliau mengemukakan  berbagai keprihatinan nasional melalui pertanyaan-pertanyaan berikut :
Pertama, mengapa pembangunan yang terjadi di Indonesia ini menggusur orang miskin dan bukan menggusur kemisikinan ? Akibatnya pembangunan, sebagai kepanjangan kapitalisme global telah menjadi proses dehumanisasi.
Kedua, mengapa yang terjadi sekedar pembangunan di Indonesia dan bukan pembangunan Indonesia ? Orang mancanegara yang membangun Indonesia dan menjadi pemegang konsesi bagi usaha-usaha ekonomi strategis, sedang orang Indonesia menjadi penonton atau menjadi jongos globlalisasi.
Ketiga, mengapa "daulat pasar" dibiarkan begitu saja berkuasa, sehingga menggusur "daulat rakyat". Beginilah ekonomi yang berdasar pemujaan pada pasar.
Keempat, bukankah seharusnya kita menjadi Tuan di Negeri sendiri, menjadi "The Master in our own Homeland, not just to become the Host", yang hanya melayani kepentingan globlalisasi dan mancanegara ? Lalu mengapa kita tetap menjadi koeli di Negeri Sendiri, sekedar menjadi master of ceremony : mengantar tamu-tamu asing duduk di kursi VIP, mengedarkan daftar hidangan, mengobral sumber daya alam, menjual masa depan, dan yang sejenisnya.
Kelima, kesejahteraan rakyat yang tidak kunjung tercapai, kesenjangan antara kaya dan miskin makin meningkat. 
Keenam, kesenjangan antara kaya dan miskin yang pada akhirnya dapat membentuk kesenjangan frustasi pada pihak si miskin. 

Dalam kesempatan selanjutnya beliau juga mengemukakan tentang Nasionalisme dan Globalisasi, yang pada intinya mengharap agar para pemuda-pemudi tidak termakan oleh globlalisasi yang dapat melumpuhkan semangat nasionalisme kita. Terkait dengan ekonomi rakyat beliau menjelaskan bahwa ekonomi rakyat adalah wujud dari ekonomi yang berbasis rakyat (people-based economy) dan ekonomi terpusat pada kepentingan rakyat (people-centered economy) yang merupakan inti dari Pasal 33 UUD tahun 1945, terutama ayat (1) dan ayat (2).

Hal yang paling menarik dari kuliah umum beliau adalah saat beliau mengemukakan Bupati-Bupati Inlander atau dalam bahasa yang lebih mudah adalah Bupati-Bupati Keblinger. Dijelaskan bahwa ada Bupati yang dengan bangganya mampu menghadirkan resto foreign-franchise di sekitar alun-alun, padahal tanpa disadari hal ini telah menurunkan pangkat kemegahan lokal alun-alun yang umumnya dikelilingi Masjid Agung dan beberapa kantor pemerintahan. Prof. Dr. Sri Edi Swasono menyebut bahwa bupati tersebut masih inlander, mudah terkagum-kagum pada investor namun lupa akan rakyatnya. Bagi Bupati modernisasi adalah westernisasi, mengagumi investor asing, namun lengah baginya yaitu akan tugas kerakyatannya. Berapa uang rakyat yang akan tersedot dengan hadirnya resto cepat saji, sebesar itu pula uang yang tidak dibelanjakan pada jajanan pasar dan makanan lokal lain buatan rakyat. 

Belum lagi banyak kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada investor asing dengan mendirikan berbagai mall, supermarket, hotel mewah dan pemukiman super mewah yang harus dilaluinya dengan menggusur tanah-tanah rakyat walaupun dengan ganti rugi. Namun beberapa  kemudahan pembangunan tersebut pada dasarnya telah menggusur orang miskin, bukan menggusur kemiskinan.
Akhirnya applause panjang yang luar biasa menutup kuliah umum. Terimakasih Prof. Edi ...

Jumat, 03 Februari 2012

Pramuka, Model Pendidikan Budi Pekerti

Saya pikir hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal kegiatan kepramukaan atau Gerakan Pramuka. Kegiatan kepramukaan sangat tidak asing lagi bagi kita semua, terlebih bagi mereka-mereka yang pernah mengenyam pendidikan formal yang dimulai dari pendidikan dasar. Di level pendidikan dasar inilah para siswa mulai dikenalkan  kegiatan kepramukaan yang pada prinsipnya melalui kegiatan ini peserta diharapkan dapat menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta memiliki rasa cinta tanah air.

Kini, ketika banyak para pesohor negeri kita yang notabene para akademisi berbicara tentang pendidikan karakter, maka sekonyong-konyong istilah pendidikan karakter pun menjadi booming dan begitu familiar di telinga kita. Ini semua terjadi karena adanya sebuah kondisi logis tentang dampak globalisasi yang konon mulai mengikis nilai-nilai moral generasi muda kita, sehingga ada beberapa kalangan yang menyebut generasi muda kita saat ini sebagai generasi instan.
 
Pendidikan karakter telah menyebar luas menjadi topik pembicaraan hangat  diberbagai media, akibatnya kurikulum pendidikan pun sekarang harus dibumbu-bumbui dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Terlepas dari itu semua, sebenarnya kita telah memiliki sebuah kegiatan yang bersifat positif bagi anak dan pemuda yaitu berupa Gerakan Pramuka. Gerakan pramuka ini bahkan sudah membahana sebelum istilah pendidikan karakter muncul. Pendidikan kepramukaan ini telah mengakar semenjak dahulu kala dan dikenal sebagai salah satu kegiatan yang mengarah kepada pembinaan mental peserta. 
Pramuka SMKN 1 Ambal, Kebumen
Kegiatan kepramukaan yang dilaksanakan adalah salah satu usaha untuk membina para anggotanya yang terdiri anak-anak dan pemuda agar memiliki rasa percaya diri, rasa berkewajiban, rasa tanggungjawab dan melatih disiplin. Dalam pelaksanaannya pembinaan kegiatan kepramukaan ini dibuat klasifikasi dengan memperhatikan perkembangan jasmani dan rohani peserta. Penggolongan tersebut terbagi golongan siaga (7-10 tahun), penggalang (11-15 tahun), penegak (16 - 20 tahun) dan pandega (21 - 25 tahun).

Sebagai penguat saya cuplikan tentang tujuan gerakan pramuka yang tertuang dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, Pasal 4 tentang Tujuan, yang menetapkan bahwa tujuan Gerakan Pramuka adalah mendidik anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar supaya :
Pertama, menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur, serta; a). tinggi mental moral budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya; b). tinggi kecerdasan dan ketrampilannya; c). kuat dan sehat fisiknya.
Kedua, menjadi warga negara Indonesia yang ber-Pancasila serta patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara.

Mencermati tujuan Gerakan Pramuka diatas, sangatlah nyata bahwa upaya-upaya untuk menanamkan budi pekerti luhur dan rasa nasionalisme kepada anak dan pemuda sudah lama ada dalam konsep pendidikan kepramukaan kita. Bahkan sampai saat ini pun kegiatan kepramukaan  tetap diberlakukan sebagai ekstrakurikuler diberbagai lembaga pendidikan formal. Nilai-nilai moral dalam kepramukaan kita kenal dengan adanya janji dan ketentuan moral yang sering kita sebut dengan Dwisatya dan Dwidarma untuk pramuka Siaga dan Trisatya serta Dasadarma untuk pramuka Penggalang dan Penegak.

Alangkah indahnya jika kita mendengar sekaligus dapat menjalankan Dasadarma pramuka, yang berisikan : 1). Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2).Cinta alam dan kasih sayang kepada sesama manusia; 3). Patriot yang sopan dan ksatria; 4). Patuh dan suka bermusyawarah; 5). Rela menolong dan tabah; 6). Rajin trampil dan gembira; 7). Hemat, cermat dan bersahaja; 8). Disiplin berani dan setia; 9). Bertanggungjawab dan dapat dipercaya; 10). Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Pramuka itu luar biasa, itu saja komentar saya. Terima kasih  dan salam.


Maaf ada tambahannya... 
Mumpung lagi ingat. Entahlah tiba-tiba saya kok ingin bicara tentang DPR kita. Anggaplah ini sebagai intermezo alias guyonan saja. Coba kalau anggota DPR kita mengenal Dasadarma pramuka, saya pikir negeri kita akan aman dan damai karena mereka bersahaja, tidak menghambur-hamburkan uang rakyat. 
Betul ???
Permasalahan yang ada adalah sayangnya DPR tidak memiliki Dasadarma, karena mungkin mereka memiliki darma-darma lain yang tak dapat dijelaskan. Darma kepada parpolnya, darma kepada pimpinannya, dan darma-darma lainnya. Sudah dulu sobat, maaf ngelantur ..


Jumat, 18 November 2011

Membentuk Karakter Anak Melalui Olahraga

Olahraga adalah bentuk kegiatan untuk melatih tubuh seseorang atau jasmani dan rohani seseorang. Mungkin kita masih ingat akan falsafah olahraga yang tak asing lagi yaitu didalam tubuh yang kuat akan terdapat jiwa yang sehat pula. Melalui aktivitas olahraga kita banyak mendapatkan hal-hal yang positif. Olahraga bukan sekedar kegiatan yang berorientasi kepada faktor fisik belaka, karena dengan olahraga juga dapat melatih sikap dan mental kita.

Aktivitas olahraga sebaiknya juga kita tekankan kepada anak-anak. Banyak hal yang kita dapatkan seandainya anak-anak kita dapat melakukan aktivitas olahraga, apalagi jika si anak memiliki hoby dan bakat khusus dibidang olahraga tertentu. Apa yang menjadi  hoby dan bakat anak,  peran orang tua tinggal memberikan arahan dan dorongan saja. Sudah barang tentu orang tua juga dituntut untuk  memberikan fasilitas atau alat-alat yang dibutuhkan seorang anak untuk melakukan aktivitas tersebut Terlebih lagi jika aktivitas olahraga anak bukan sekedar untuk hoby saja, namun lebih mengarah kepada prestasi. Perhatian dan dukungan sangat dibutuhkan oleh seorang anak.
Karakter positif akan terbentuk melalui olahraga


Beberapa alasan perlunya anak-anak untuk memiliki aktivitas dalam bidang olahraga diantaranya adalah bahwa pada masa anak-anak mempunyai kecenderungan senang terhadap berbagai macam permainan. Oleh karenanya orang tua dapat mengarahkan dan memberikan pilihan-pilihan bentuk permainan yang ada di aktivitas olahraga, syukur jika kita dapat memasukkan anak dalam klub tertentu.  Misalnya sepakbola, tenis lapangan atau bulutangkis dan olahraga lain yang mendukung. Cara-cara ini akan mendidik dan melatih anak untuk bersosialisasi, saling menghargai  dan kerjasama dengan teman-teman se-klub dengan bimbingan pelatih.

Selain itu melalui latihan-latihan yang rutin anak juga dididik untuk melakukan program pembiasaan yaitu saling berjabat tangan pada saat memulai dan mengakhiri latihan, baik dengan teman, orang tua serta dengan semua yang hadir di tempat latihan. Pembiasaan lain adalah melatih kedisiplinan anak untuk menghargai waktu, jika ada diantara anak  yang datang tidak tepat waktu tanpa alasan yang jelas,  maka  anak diberikan  punishment atau hukuman yang bersifat positif. Bentuk-bentuk hukuman seperti lari mengelilingi lapangan dan  push up atau sejenisnya adalah hal yang biasa dalam dunia olahraga. Self-diciplin diharapkan dapat terbentuk.


Hal lain yang dapat kita peroleh dari aktivitas olahraga adalah melatih anak untuk memiliki semangat  juang yang tinggi baik pada saat latihan ataupun pada saat menghadapi pertandingan-pertandingan yang resmi. Nilai-nilai mental lain juga terbentuk, mengakui kemenangan orang lain dan menerima kekalahan adalah bentuk penanaman nilai  berupa penghargaan dan nilai keadilan.  Pendek kata, banyak karakter positif anak yang dapat terbentuk dari aktivitas olahraga ini.  Melalui olahraga anak akan memiliki tanggungjawab, rasa hormat dan memiliki kepedulian dengan sesama. Nilai-nilai ketekunan, kejujuran dan keberanian juga dapat diperoleh dari aktivitas olahraga dan tentu masih banyak lainnya.

Sekian, semoga bermanfaat. Salam ..

Selasa, 15 November 2011

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri.

Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan, yaitu generasi hedonis, generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berteman dengan miras, narkoba, seks bebas, tawuran pelajar atau mahasiswa dan akrab dengan dunia malam, maka hilangkan karakter mereka. Hilanglah karakter sebuah generasi yang konon menjadi generasi penerus bangsa. 

Pada akhirnya kondisi seperti ini menjadi sebuah "pekerjaan rumah" yang sangat serius bagi mereka-mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dalam hal ini sekolah atau lembaga pendidikan formal. Sekolah diharapkan menjadi wahana yang tepat untuk menekankan kepada generasi muda tentang pendidikan karakter. Sejauh ini sekolah memang sering mendapat kritik pedas terkait dengan lemahnya karakter generasi saat ini. Sekolah "dituduh" hanya "mencekoki" anak-anak dengan pengetahuan dan ketrampilan (hard skill) belaka namun mengabaikan nilai-nilai kepribadian, ketrampilan mengelola diri (soft skill). 
Melatih mental, menyajikan hasil diskusi kelompok
Sebagai respon melalui dinas terkait, sosialisasi tentang pendidikan karakter sering dilaksanakan. Pada intinya sekolah sebagai lembaga formal pendidikan mempunyai kewajiban untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran yang ada. Tentunya hal ini membawa konsekuensi logis bagi setiap guru dalam memberikan materinya harus mengaplikasikan pendidikan karakter. Cukupkah itu ? Tidak !! Pendidikan karakter perlu keteladanan. Keteladanan adalah hal yang utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Keteladan yang baik perlu ditunjukkan oleh guru atau warga sekolah lainnya, terlebih dari keluarga dalam hal ini adalah orang tua. Peran orang tua justru sangat vital dalam membentuk karakter seorang anak, karena keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak sebelum mereka bersosialisasi dengan dunia luar. 

Akhirnya sampailah pada sebuah pesan singkat dari saya. Jangan jadikan televisi menjadi teladan dan guru bagi anak. Semoga bermanfaat, Salam ..

Rabu, 26 Oktober 2011

Mengenal Fungsi Jari dalam Mengetik

Rutinitas pekerjaan di suatu kantor jelas tidak terlepas dari aktivitas ketik mengetik dokumen. Mengetik adalah pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan kecermatan dan juga unsur kerapihan sehingga dokumen yang kita hasilkan dapat terbaca oleh pihak-pihak yang membutuhkan. Pekerjaan mengetik tampaknya sederhana, namun sebenarnya tidak sesederhana anggapan beberapa orang. Di dalam mengetik kita harus mengetahui tentang sistem mengetik yang baik sehingga menghasilkan ketikan yang cepat dan tepat

Sistem mengetik sepuluh jari (ten fingers system) merupakan sistem mengetik yang paling banyak dikenal, dibanding sistem yang lain misal model mengetik sistem buta (blind system) atau juga sistem berirama (rythem system). Dalam sistem sepuluh jari, semua jari-jari yang kita miliki harus mengenal fungsi kerja  masing-masing jari. Ibarat manusia, kalau kita memiliki tempat tinggal sebagai titik awal pergi dan pulang usai melakukan aktivitas, maka jari-jari ini pun memiliki rumah yang disebut Home Keys. Usai jari melakukan aktivitas mengentak tuts-tuts, maka seketika itu harus kembali ke rumah jari atau home keys.

papan tuts alias keyboard (typing-lesson.org)




home keys (typing-lesson.org)
Rumahnya jari atau home keys terletak pada huruf-huruf A, S, D, F dan J, K, L, titik dua (:) atau titik koma(;),  di mana tuts-tuts tersebut merupakan rumah dari jari yaitu :
A = jari kelingking kiri
S = jari manis kiri
D = jari tengah kiri
F = jari telunjuk kiri

Sedangkan jari tangan sebelah kanan adalah untuk :
J = jari telunjuk kanan
K= jari tengah kanan
L = jari manis kanan
titik dua (:) atau titik koma (;) = jarikelingking kanan
Sebagai catatan kedua ibu jari selalu menempel pada bilah spasi. 

Untuk tuts yang ada pada bagian atas dari home key, yaitu QWERTYUIOP dan tuts pada bagian bawah yaitu ZXCVBNM,. juga menjadi tugas dari jari-jari yang pembagian tugasnya adalah :
Q dan Z = tugas dari jari kelingking kiri. 
W dan X = tugas dari jari manis kiri
E dan C = tugas dari jari tengah kiri
R, F, V, T, G dan B = tugas dari jari telunjuk kiri 
Y, H, N, U, J dan M = tugas dari jari telunjuk kanan
I, K, dan tanda koma (,) = tugas dari jari tengah kanan
O, L dan tanda titik (.) = tugas dari jari manis kanan
P, tanda titik dua (:) dan tanda tanya (?) = tugas dari jari kelingking kanan

Pada saat kita melakukan persiapan pengetikan, yaitu dengan sikap duduk yang baik maka pastikan bahwa jari-jari kita telah berada pada home keys. Sebagai ilustrasi jika kita akan mengetik kata "KECIL" maka sebenarnya cukup dengan memfungsikan jari tengah kanan, tengah kiri, tengah kiri, tengah kanan dan jari manis kanan. Butuh waktu untuk dapat mengetik sistem sepuluh jari dengan cepat dan lancar. Harus banyak berlatih. Sesuatu yang baru dilakukan umumnya terasa sulit, namun jika sudah terbiasa maka akan menjadi hal yang luar biasa.

Semoga bermanfaat. Salam..

Rabu, 28 September 2011

Sebuah Tanda Tanya [ ? ]

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi saat ini membawa perubahan yang sangat luar biasa dalam berbagai bidang.  Tak terkecuali dalam bidang pendidikan, perkembangan teknologi informasi nyata-nyata telah mampu memberi nuansa baru. Terlebih bagi seorang guru, penggunaan media dengan basis teknologi informasi tentunya hal tersebut dapat membawa angin segar untuk membantu proses pembelajaran di sekolah-sekolah. 

Hal tersebut sejalan apa yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang pada prinsipnya bahwa dalam melaksanakan profesinya maka guru berkewajiban untuk meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini guru yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik dapat mengemas pembelajaran yang menarik dengan pemilihan media yang berbasis teknologi informasi.

Penggunaan media berbasis teknologi informasi ini akan sangat membantu guru dalam pembelajaran. Kemasan pembelajaran yang interaktif dalam suatu kelas dengan dukungan multimedia melalui internet akan membuat suasana kelas hidup. Keberadaan internet dirasakan sangat berguna dalam menunjang proses pembelajaran, dan dapat dijadikan sebagai sumber atau pusat informasi. Guru jelas akan sangat terbantu sekali dengan model pembelajaran seperti ini. 

Namun sejauh ini masih banyak guru yang belum memanfaatkan perkembangan teknologi informasi ini. Saya tidak tahu persis data tentang guru pengguna media pembelajaran dengan internet ini, dari beberapa sumber yang pernah saya baca konon masih guru-guru yang gaptek alias gagap teknologi. Masih banyak guru yang menggunakan pola-pola konvensional, yang sering dikenal dengan pembelajaran berpusat pada guru. Guru aktif sementara peserta didik seperti di setting untuk menjadi pendengar setia dalam kelas.

Peserta didik bukan sekedar obyek dalam pembelajaran yang "diam dan duduk" saja, akan tetapi dapat menjadi subjek yang ikut berinteraksi langsung dalam pembelajaran. Jika peserta didik sekedar " diam dan duduk " saja, apa yang akan diperoleh adalah waktu yang terbuang sia-sia. Beberapa penguatan di atas menunjukkan bahwa model-model pembelajaran yang konvensional harus tahap demi tahap digeser dengan model pembelajaran yang mengarah pada keaktifan siswa (student centered).

Perlu dipahami bahwa keberadaan guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Media massa, televisi, radio dan lingkungan sekitar juga dapat menjadi sumber belajar bagi siswa  yang sangat  potensial. Guru yang sering diistilahkan  dengan kata-kata "digugu dan ditiru" akan sangat "wagu dan saru" jika hingga sampai saat ini  tidak mampu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi yang ada.

Disinilah perumpaman bahwa teknologi itu laksana sebuah pisau bermata dua. Satu sisi jika perkembangan teknologi informasi dapat diikuti maka segalanya akan terasa mudah dan dapat membantu memperingan tugas dan beban guru. Sebaliknya teknologi akan menjadi sebuah malapetaka bagi guru manakala  tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi. Dan mulai saat itulah akan muncul sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab yaitu pertanyaan tentang profesionalitas diri kita sebagai seorang guru. Masih pantaskah kita disebut seorang guru profesional ?

*) Catatan terilhami dari status jejaring sosial salah satu badan /instansi pemerintahan yang sedang mengadakan diklat untuk guru-guru. Status berisikan keluhan bahwa ternyata masih ada guru yang belum bisa membuat email. Catatan ini bukan bermaksud merendahkan harkat dan martabat guru apalagi guru juga profesi saya. Semoga catatan ini dapat menjadi pelecut bagi kita semua untuk terus berkembang dan berkembang.

Rabu, 24 Agustus 2011

Prakerin : Konsep Link and Match

Munculnya  kesenjangan  dan ketidaksesuaian kualitas  output dari lembaga pendidikan tertentu dengan  kualifikasi yang diharapkan oleh Dunia Usaha/Dunia Industri (DUDI) menjadi isu sentral tentang tidak adanya kesinambungan  antara dunia pendidikan dengan dunia usaha atau dunia industri. Sebagai  bukti konkrit yang menunjukkan hal tersebut adalah tidak sesuainya ketrampilan yang dimiliki oleh lulusan dengan jenis ketrampilan yang dipersyaratkan untuk menangani jenis pekerjaan atau untuk memegang suatu jabatan tertentu.

Siswi SMKN 1 Ambal Prakerin di Pringsewu Baturaden
Solusi dari permasalahan di atas sebagaimana telah ditekankan oleh pemerintah adalah perlunya konsep pendidikan yang mengacu pada konsep "link dan match".  Konsep "keterkaitan dan kesepadanan " ini sebenarnya telah muncul mulai tahun 1990-an saat Mendiknas kita masih Prof. Dr. Wardiman dan tentunya relevansinya hingga saat ini masih terasa kuat dan perlu dikembangkan lagi. Konsep ini menghendaki adanya suatu hubungan diantara dunia pendidikan yang diistilahkan sebagai pemasok dan dunia usaha atau dunia industri sebagai pengguna. Konsep ini pula dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk pengembangan kurikulum  yang dirancang bersama antara pihak pendidikan dan duniausaha/dunia industri. Hubungan timbal balik ini mutlak adanya.



Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah salah satu bentuk contoh dari pelaksanaan konsep link dan match. Istilah pendidikan sistem ganda sering disebut pula Praktek Kerja Lapangan (PKL), ada pula yang menyebut dengan On the Job Trainning (OJT), dan istilah sekarang banyak menyebutnya dengan Praktek Kerja Industri (Prakerin).  Prakerin merupakan bagian dari program bersama antara SMK dan Industri yang dilaksanakan di dunia usaha/industri. Program tersebut diharapkan mampu untuk menjembatani sekaligus menutup kesenjangan yang terjadi antara dunia pendidikan dan dunia usaha selama ini.  

Kegiatan prakerin  diharapkan mampu meningkatkan penguasaan kompetensi produktif sekaligus memberikan peluang kepada para siswa untuk mendapatkan pengakuan atas kompetensi yang dimiliki dari Industri. Berikut ini merupakan tujuan dari Praktek Kerja Industri :
  • Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional ( dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja ).
  • memperkokoh ” link and macth ” antara sekolah dengan dunia kerja.
  • Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas profesional.
  • Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.

Senin, 22 Agustus 2011

Disfungsi Guru di Sekolah Pinggiran


Dalam Pasal 1 Undang-undang  Repbulik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diterangkan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Bukan sesuatu hal yang mudah untuk menjalankan fungsi dan tugas dengan baik dan benar. Kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik ditunjang dengan kemampuan untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab menjadi prasarat untuk melaksanakan tugas tersebut.
Hal lain yang perlu dipersiapkan oleh seorang guru untuk melaksanakan tugas tersebut tidak sesederhana yang ada dibenak kebanyakan orang. Suara-suara nyaring seperti “Enaknya jadi guru. Anak sekolah libur semester, guru ikut menikmati libur”.  Itu adalah hal biasa yang sering kita dengar. Namun essensi dari libur semester adalah memberikan waktu khusus bagi guru untuk mempersiapkan tugasnya pada   semester depan. Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menjalankan tugas guru yang biasanya dikenal dengan perangkat pembelajaran. Mulai dari silabus, pemetaan standar kompetensi dasar, analisis laokasi waktu,  membuat program semester atau tahunan, menyiapkan rencana kegiatan pembelajaran dan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada tahapan selanjutnya yaitu melaksanakan rencana-rencana yang telah dipersiapkan, dan disusul evaluasi.                                                                                                   
Tugas tersebut dalam realitanya masih harus dibebani dengan tugas tambahan lain atau tugas yang seolah sangat dipaksakan. Seorang guru harus merangkap menjadi bendahara rutin, bendahara sekolah dan kadang sering berprofesi sebagai kurir atau caraka. Kondisi semacam ini biasanya terjadi pada sekolah-sekolah yang ada dipedesaan atau di sekolah pinggiran. Hal yang sangat dipaksakan adalah ketika seorang guru harus mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai kualifikasinya. Bukan karena tidak mampu namun secara psikis, mengajar bukan merupakan mata pelajaran yang sesuai dengan  kualifikasinya adalah sebuah beban yang tidak kecil.
Kondisi disfungsi guru di atas dapat  terjadi dikarena beberapa hal. Pertama, masih minimnya tenaga administrasi atau staff tata usaha pada sekolah tersebut, atau sudah ada tenaga administrasi namun kurang mumpuni, kurang respek terhadap pekerjaan, kurang memiliki skill  sehingga mau tidak mau dengan kondisi seadanya memaksimalkan guru untuk merangkap tugas tersebut. Bagimana mungkin seorang guru harus menyiapkan tugas penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) sampai pembuatan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA-SKPD) dan lain-lain sampai proses pertanggungjawabannya. Walaupun mampu untuk melaksanakannya, namun tugas dan fungsi utama sebagai guru untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi jelas akan terabaikan.
Hal lebih prihatin sekali bagi sekolah-sekolah yang ada dipedesaan adalah sering kurangnya informasi secara formal dari instansi-instansi di pusat kota, baik dari instansi pemerintah daerah berupa badan, kantor atau dinas tertentu. Perkembangan teknologi informasi memang luar biasa, namun dari sisi kedinasan, surat dalam bentuk tertulis masih menjadi bukti otentik yang relevan hingga saat ini. Surat-surat yang semestinya segera sampai disekolah-sekolah namun kadang-kadang “mandeg” ditempat, karena mengharapkan pihak sekolah untuk aktif. Hal ini menjadi sesuatu yang lucu, bukankah surat dibuat untuk menyampaikan informasi tertentu kepada pihak-pihak yang menjadi tujuan dalam surat. Disinilah guru harus berperan lagi menjadi seorang kurir untuk mengambil surat pada institusi berbentuk badan atau kedinasan lainnya. Namun dalam hal tertentu karena kondisi yang mendesak perlu kita pahami bersama.
Kedua, penempatan guru pada sekolah tertentu yang tidak sesuai dengan kualifikasi, akan menjadi beban bagi guru yang bersangkutan dan sekaligus menjadi tugas berat bagi personil dibidang kurikulum dalam membuat platform pembagian tugas. Asas the right man in the right place hanya sekedar pepesan kosong dan tak bermakna. Selain itu sebagaimana tertulis diatas dengan penempatan guru yang tidak sesuai dengan kualifikasinya akan menjadi beban psikis bagi yang bersangkutan, walau memiliki keyakinan untuk melaksanakan namun tidaklah optimal.
Optimalisasi
Sekolah adalah sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur yaitu  kepala sekolah, guru, siswa, karyawan/karyawati, lingkungan, sarana, media dan unsur lainya, maka manakala ada salah satu unsur yang tidak beres berarti terjadi keganjilan dalam sistem tersebut. Sama halnya seperti kasus diatas dimana ada unsur dalam hal ini adalah minimnya atau kurang optimal kerja tenaga administrasi sehingga berdampak pada unsur lain (baca : guru khususnya) dan unsur lain pada umumnya.
Inti dari permasalahan di atas adalah munculnya fungsi-fungsi tambahan bagi guru yang sangat jelas tidak ada relevansinya sebagaimana tugas guru sesuai dengan pasal 1 Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.  Fungsi baru dengan model rangkap jabatan hanya akan memberikan beban bagi guru sehingga justru apa yang menjadi tugas utama akan terabaikan. Beberapa arternatif cara untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut diantaranya adalah penempatan tenaga administrasi yang betul-betul memiliki skill (ketrampilan) bagi seluruh sekolah dipinggiran dengan cara rekruitmen, sehingga kebutuhan tenaga administrasi tercukupi. Model lain adalah dengan cara mengoptimalkan tenaga administrasi yang sudah ada (tanpa mengurangi rasa hormat bagi yang sudah sangat ahli dalam bidang administrasi) dengan beberapa jenis pelatihan   atau bimbingan teknis baik ditingkat kabupaten, propinsi atau pun ditingkat pusat.
Tersedianya tenaga administrasi yang cukup, mumpuni dan berketrampilan baik (khususnya di sekolah pinggiran) akan menjadi sebuah momen yang bijak untuk mengembalikan fungsi dan tugas guru sebagaimana mestinya yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi para peserta didik. 

Kamis, 28 Juli 2011

Tips Menjadi Pengajar Yang Menyenangkan


Dapatkah Anda membayangkan, apa yang terjadi jika tak tercipta suasana menyenangkan dalam proses belajar mengajar? Ya, siswa akan bosan dan tujuan dari penanaman ilmu oleh pengajar tak akan tercapai. Bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan? Beberapa tips ini mungkin bisa menjadi panduan.

Salah satu hal yang harus dikedepankan adalah menyertakan partisipasi siswa di dalam kelas. Selain untuk membangun komunikasi dengan siswa, pengajar juga dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan bagi para siswa. Jika situasi ini tak terbangun, bisa jadi siswa akan merasa canggung berbicara dengan guru dan komunikasi tidak akan berjalan baik. Akibatnya, pengajar juga akan mengalami kesulitan untuk mengetahui apa yang menjadi keinginan siswa.

Ciptakan iklim yang nyaman buat anak didik Anda
Iklim yang nyaman akan menghilangkan kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri. Hal ini juga bisa mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga komunikasi antara pendidik dan anak didik dapat terbangun. Sebagai pengajar, Anda dapat menjelaskan kepada siswa bahwa tidak akan ada siswa lain yang akan mengejak ketika ia bertanya. Beri motivasi kepada siswa bahwa dengan bertanya,  akan memudahkannya untuk lebih mengetahui tentang sesuatu hal daripada hanya diam mendengarkan.

Dengarkan dengan serius setiap komentar atau pertanyaan yang diajukan oleh siswa Anda.
Jika siswa Anda mengajukan pertanyaan, sebisa mungkin  fokus dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri siswa karena ia merasa diperhatikan. Seringkali siswa merasa kurang percaya diri sehingga enggan untuk memberikan kontribusi di dalam kelas. Nah, tugas Anda sebagai pengajar, membangun kepercayaan diri siswa dengan menunjukkan perhatian-perhatian saat siswa merasa sedang ingin didengarkan.

Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa
Anda juga bisa mencoba dengan memuji setiap komentar yang diajukan oleh anak didik Anda. Misalnya, "Oh, itu ide yang sangat bagus" ,atau "Pertanyaan kamu bagus, itu tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”.

Beri pertanyaan yang mudah dijawab
Jika hal diatas belum juga berhasil untuk mengajak siswa memberikan komentar atau pertanyaan, giliran Anda untuk mengajukan pertanyaan memancing yang bisa membuat anak didik Anda tidak lagi bungkam di dalam kelas. Pastikan pertanyaan Anda mampu dijawab oleh siswa, sehingga saat menjawab secara tidak langsung melatih siswa untuk berbicara.
Saat siswa sudah mulai merespon, beri senyum kepada siswa yang sudah berkomentar. Hal ini akan mengurangi rasa canggung yang biasa ia perlihatkan.

Biarkan siswa mengetahui pelajaran sebelum kelas dimulai
Minta agar para siswa mempelajari bahan yang nantinya akan Anda tanyakan. Sehingga, ia akan mempersiapkannya terlebih dulu. Jika saat anda bertanya dan para siswa tidak merespon, ubah format pertanyaan anda yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".

Controlling
Kontrol para siswa dengan alat kontrol yang Anda miiliki. Gunanya adalah untuk mengetahui seberapa banyak siswa yang biasanya berpartisipasi dalam kelas. Jika Anda menemukan beberapa siswa yang tingkat partisipasinya dalam kelas sangat kurang, maka ajak ia berkomunikasi secaraa pribadi. Mungkin dengan begitu ia akan merasa percaya diri. Selain itu, jika yang Anda temukan hanyalah permasalahan kurang percaya yang menjadikannya diam selama kelas berlangsung, maka tugas Anda selanjutnya adalah memberi ia tugas yang bisa membantunya untuk berkomunikasi. Misalnya, tugas berpidato dalam kelas.
Selamat mencoba!!
*diolah dari berbagai sumber 

source : kompas.com

Minggu, 24 Juli 2011

Renungan Untuk Orangtua

Renungan. Bagi yang orang tua yang diberi amanah.

If a child lives with criticism, he learns to condemn
(Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar menyalahkan)

If a child lives with hostility, he learns to fight
(Jika anak dibesarkan dengan kebencian, ia belajar berkelahi)



If a child lives with ridicule, he learns to be shy
(Jika anak dibesarkan dengan ejekan, ia akan tumbuh rendah diri)

If a child lives with shame, he learns to feel guilty
(Jika anak sering dipermalukan, ia akan menyalahkan diri sendiri)

If a child lives with tolerance, he learns to be patient
(Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar bersabar)

If a child lives with encouragement, he learns to be confident
(Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri)

If a child lives with praise, he learns to appreciate
(Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai)

If a child lives with fairness, he learns justice
(Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia akan belajar berbuat adil)

If a child lives with security, he learns to have faith
(Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar memiliki keyakinan)

If a child lives with approval, he learns to like himself
(Jika anak dibesarkan dengan persetujuan, ia akan belajar menyukai diri)

If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world
(Jika anak dibesarkan dengan penerimaan dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan)

Keep Your Children…!

Selasa, 28 Juni 2011

Metode Tanya Jawab


Dalam menggunakan metode mengajar, tidak hanya guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah, melainkan mencakup pertanyaan-pertanyaan dan penyumbangan ide-ide dari pihak siswa. Cara pengajaran yang seperti ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah:  (1) metode tanya-jawab, dan (2) metode diskusi.

Perbedaan pokok diantara metode tanya-jawab dengan metode diskusi terletak pada:
1.      Corak pertanyaan yang diajukan guru.
2.      Sifat pengambilan bagian yang diharapkan dari pihak siswa. Pada hakekatnya metode tanya jawab berusaha menanyakan apakah siswa telah mengetahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan, dalam hal lain guru juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran siswa. Melalui metode tanya-jawab guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktuaL Sebaliknya dengan metode diskusi, guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berbeda sifatnya. Di sini guru merangsang siswa untuk menggunakan fakta-fakta yang telah dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban.

Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode tanya jawab mempunyai hubungan dengan metode apakah yang sedang dipakai guru metode ini sering sukar dibedakan, tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogianya dibedakan.

Metode tanya-jawab digunakan dengan maksud :
a.       Melanjutkan (meninjau) pelajaran yang lalu
b.      Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa
c.       Memimpin pengamatan dan pemikiran siswa.

Kelebihan dan kelemahan metode tanya-jawab :

Kelebihan :
a.       Kelas lebih aktif karena siswa tidak sekedar mendengarkan saja
b.      Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya sehingga guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh para siswa
c.       Guru dapat mengetahui sampai di mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.

Kelemahannya :
a.       Dengan tanya jawab kadang-kadang pernbicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalarn mengajukan pertanyaan, siswa rnenyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalarn hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
b.      Mernbutuhkan waktu lebih banyak. 


Alun-alun Kebumen: Ruang Publik Kita

Di tengah bisingnya kota, di sela kesibukan dan rutinitas yang sering terasa seperti drama tanpa akhir, masih ada ruang yang membuat kita ...