Langsung ke konten utama

Pramuka, Model Pendidikan Budi Pekerti

Saya pikir hampir sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal kegiatan kepramukaan atau Gerakan Pramuka. Kegiatan kepramukaan sangat tidak asing lagi bagi kita semua, terlebih bagi mereka-mereka yang pernah mengenyam pendidikan formal yang dimulai dari pendidikan dasar. Di level pendidikan dasar inilah para siswa mulai dikenalkan  kegiatan kepramukaan yang pada prinsipnya melalui kegiatan ini peserta diharapkan dapat menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta memiliki rasa cinta tanah air.

Kini, ketika banyak para pesohor negeri kita yang notabene para akademisi berbicara tentang pendidikan karakter, maka sekonyong-konyong istilah pendidikan karakter pun menjadi booming dan begitu familiar di telinga kita. Ini semua terjadi karena adanya sebuah kondisi logis tentang dampak globalisasi yang konon mulai mengikis nilai-nilai moral generasi muda kita, sehingga ada beberapa kalangan yang menyebut generasi muda kita saat ini sebagai generasi instan.
 
Pendidikan karakter telah menyebar luas menjadi topik pembicaraan hangat  diberbagai media, akibatnya kurikulum pendidikan pun sekarang harus dibumbu-bumbui dengan nilai-nilai pendidikan karakter. Terlepas dari itu semua, sebenarnya kita telah memiliki sebuah kegiatan yang bersifat positif bagi anak dan pemuda yaitu berupa Gerakan Pramuka. Gerakan pramuka ini bahkan sudah membahana sebelum istilah pendidikan karakter muncul. Pendidikan kepramukaan ini telah mengakar semenjak dahulu kala dan dikenal sebagai salah satu kegiatan yang mengarah kepada pembinaan mental peserta. 
Pramuka SMKN 1 Ambal, Kebumen
Kegiatan kepramukaan yang dilaksanakan adalah salah satu usaha untuk membina para anggotanya yang terdiri anak-anak dan pemuda agar memiliki rasa percaya diri, rasa berkewajiban, rasa tanggungjawab dan melatih disiplin. Dalam pelaksanaannya pembinaan kegiatan kepramukaan ini dibuat klasifikasi dengan memperhatikan perkembangan jasmani dan rohani peserta. Penggolongan tersebut terbagi golongan siaga (7-10 tahun), penggalang (11-15 tahun), penegak (16 - 20 tahun) dan pandega (21 - 25 tahun).

Sebagai penguat saya cuplikan tentang tujuan gerakan pramuka yang tertuang dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, Pasal 4 tentang Tujuan, yang menetapkan bahwa tujuan Gerakan Pramuka adalah mendidik anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar supaya :
Pertama, menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur, serta; a). tinggi mental moral budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya; b). tinggi kecerdasan dan ketrampilannya; c). kuat dan sehat fisiknya.
Kedua, menjadi warga negara Indonesia yang ber-Pancasila serta patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara.

Mencermati tujuan Gerakan Pramuka diatas, sangatlah nyata bahwa upaya-upaya untuk menanamkan budi pekerti luhur dan rasa nasionalisme kepada anak dan pemuda sudah lama ada dalam konsep pendidikan kepramukaan kita. Bahkan sampai saat ini pun kegiatan kepramukaan  tetap diberlakukan sebagai ekstrakurikuler diberbagai lembaga pendidikan formal. Nilai-nilai moral dalam kepramukaan kita kenal dengan adanya janji dan ketentuan moral yang sering kita sebut dengan Dwisatya dan Dwidarma untuk pramuka Siaga dan Trisatya serta Dasadarma untuk pramuka Penggalang dan Penegak.

Alangkah indahnya jika kita mendengar sekaligus dapat menjalankan Dasadarma pramuka, yang berisikan : 1). Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, 2).Cinta alam dan kasih sayang kepada sesama manusia; 3). Patriot yang sopan dan ksatria; 4). Patuh dan suka bermusyawarah; 5). Rela menolong dan tabah; 6). Rajin trampil dan gembira; 7). Hemat, cermat dan bersahaja; 8). Disiplin berani dan setia; 9). Bertanggungjawab dan dapat dipercaya; 10). Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Pramuka itu luar biasa, itu saja komentar saya. Terima kasih  dan salam.


Maaf ada tambahannya... 
Mumpung lagi ingat. Entahlah tiba-tiba saya kok ingin bicara tentang DPR kita. Anggaplah ini sebagai intermezo alias guyonan saja. Coba kalau anggota DPR kita mengenal Dasadarma pramuka, saya pikir negeri kita akan aman dan damai karena mereka bersahaja, tidak menghambur-hamburkan uang rakyat. 
Betul ???
Permasalahan yang ada adalah sayangnya DPR tidak memiliki Dasadarma, karena mungkin mereka memiliki darma-darma lain yang tak dapat dijelaskan. Darma kepada parpolnya, darma kepada pimpinannya, dan darma-darma lainnya. Sudah dulu sobat, maaf ngelantur ..


Komentar

Unknown mengatakan…
Jadi inget waktu SD dlu suka jadi ketua regu. Tapi sebenarnya bukan DPR yg harus punya dasa darma tapi anggota DPR. Semuanya beragama tpi kebanyakan tidak takut sama Tuhannya, jdi banyak yg korupsi dech.
Unknown mengatakan…
Setuju kang, ijin saya ambil sedikit ide tulisannya untuk bahan materi

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan , yaitu generasi hedonis , generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berte...

Ziddu Hentikan Layanan Pembayaran

Sudah beberapa bulan saya tidak login ke Ziddu.com. Ziddu.com menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk menyimpan berbagai macam file dan tentunya tambahan penghasilan bagi para pengguna Ziddu.com menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika penggun a Ziddu.com pun membengkak. Ziddu.com dimulai pada tahun 2007 dan semua fitur yang unik dan inovatif membuatnya menjadi pemimpin di pasar dalam waktu singkat .    Awal Januari 2012 ini, ternyata ada informasi yang penting dari layanan Ziddu.com yang cukup mengagetkan. "From January 2012, Ziddu will not pay to users. However the Ziddu service is 100% Free for downloading files". Thanks & Regards Ziddu Team Informasi tersebut pada dasarnya memberitahukan bahwa mulai Januari 2012, Ziddu.com tidak akan membayar kepada para penggunanya. Namun demikian masih memberikan layanan donwload secara gratis. Respon pun bermunculan sebagai efek dari penghapusan salah satu bentuk layanan yang selama ini menjad...

Iklan Mie Instan 'Menghina' Guru

mie instant (indocampus.com) Beberapa minggu terakhir ini di dunia maya ramai diperbincangkan tentang sebuah iklan mie instan yang  menurut sebagian besar kalangan terkesan ada unsur penghinaan terhadap profesi guru. Setelah membaca beberapa opini tentang iklan mie instan yang menghina guru tersebut timbullah rasa keingintahuan saya untuk segera melihat iklan tersebut. Rasa penasaran kian menjadi, namun setelah beberapa jam memelototi televisi akhirnya muncul juga iklan yang dimaksud. Pada awalnya iklan ini memang menceritakan hal yang wajar-wajar saja, seorang anak yang hobi memelihara ayam sangat kaget ketika pulang sekolah ayam peliharaannya tidak ada sama sekali. Kemudian anak tersebut makan mie instan yang dihidangkan neneknya dengan nikmat. Semua berjalan wajar dan seadanya. Hal yang sangat tidak wajar adalah pada bagian akhir dari iklan tersebut. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru melihat seekor ayam yang nangkring di kepala seorang guru dalam iklan tersebu...