Langsung ke konten utama

Nikmatnya Dawet Hitam Jembatan Butuh

Sekedar informasi bagi teman-teman semua, terutama yang sering bepergian melintasi jalan raya jalur selatan dari Cilacap, Purwokerto, atau Kebumen menuju kota Yogyakarta, amatlah disayangkan jika anda tidak berhenti sesaat untuk mencicipi dawet hitam. Mungkin selama ini kita hanya mengenal istilah dawet ayu dari Banjarnegara saja, namun saat kita cermati di sekitar jalan raya menuju Yogyakarta sangat banyak kita temui penjual dawet hitam di kanan kiri jalan saat meninggalkan kota Kebumen dan memasuki Purworejo.

Dawet hitam adalah sejenis cendol yang berwarna hitam. Proses pembuatannya masih menggunakan pola tradisional dan secara alami, serta tidak menggunakan bahan pewarna. Penyajian sebagaimana dawet-dawet lainnya, yaitu dawet dituangkan ke dalam mangkok, diikuti pemberian santan, pemanis gula aren dan es secukupnya. Penyajiannya memang sederhana tapi bicara soal rasa sangatlah luar biasa, sangat cocok untuk anda semua yang ingin rehat sejenak menghilangkan rasa haus. 
Dawet Hitam Asli Wetan Jembatan Butuh

Diantara sekian banyak dawet hitam, tempat atau lapak penjualan dawet hitam yang banyak dipenuhi pengunjung, datang dan pergi silih berganti adalah Dawet Hitam Asli Wetan Jembatan Butuh. Butuh adalah sebuah nama kecamatan di wilayah kabupaten Purworejo bagian barat, yang berbatasan langsung dengan kabupaten Kebumen. Sesuai dengan namanya, dawet hitam ini terletak tepat di sebelah timur jembatan Butuh, Kabupaten Purworejo. Tepatnya terletak disebelah kanan jalan, jika anda melakukan perjalanan dari arah barat dan sebaliknya jika anda berasal dari arah Yogyakarta letak Dawet Hitam Jembatan Butuh ada di sebelah kiri jalan.


Anda tidak perlu meragukan lagi soal rasa dawet hitan tersebut, pokoknya dijamin maknyuss. Banyaknya jumlah konsumen yang selalu datang dan pergi, saya pikir sudah dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai rasa dan mengambil keputusan untuk segera menikmati Dawet Hitam Asli Wetan Jembatan Butuh tersebut. Masih ragu-ragu juga, silakan datang saja ke lokasi dan buktikan apa yang telah saya rasakan. Karena hampir setiap minggu sekali saya dan teman-teman melintasi jembatan Butuh, yang berarti pula saya dan teman-teman harus parkir beberapa menit untuk menikmati dawet hitam di sebelah timur jembatan Butuh tersebut.

Selain rasa yang sangat nikmat, harganya pun masih sangat terjangkau oleh kantong kita. Harga untuk satu porsi, semangkok dawet hitam ini adalah Rp 2.500,-. (Kalau saya biasanya selalu nambah, soalnya mangkoknya kecil sih ..hehe). Dawet Hitam Asli Wetan Jembatan Butuh ini juga menerima pesanan dari berbagai daerah khususnya orang-orang yang memiliki hajatan untuk resepsi pernikahan dan acara sejenis. Sebagai catatan Dawet Hitam Asli Wetan Jembatan Butuh ini tidak membuka cabang di manapun, jadi anda jangan sampai keliru untuk menentukan pilihan. Jangan lupa pula, Dawet Hitam Asli Wetan Jembatan Butuh ini tutup rata-rata pukul 17.00, selepas jam tersebut saya jamin anda sulit menemukannya.

Terimakasih dan salam ..


sumber gambar :

Komentar

endanesia mengatakan…
di jatim ada nggak ya ? siapa tau buka cabang he he he
Andy mengatakan…
wah aku baru tahu mas ada dawet hitam,rasa enakan mana ya sama yg hijau ?
Rasimun Way mengatakan…
@endanesia : kayaknya belum ada sobat, masih belum buka cabang. Salam
Rasimun Way mengatakan…
@Andy : versi saya enakan yang hitam mas Andy, silakan dicoba saja ..
Riki Rohman S. mengatakan…
Saya udh pernah nyoba pak, memang rasanya mantap.

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan , yaitu generasi hedonis , generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berte...

Ziddu Hentikan Layanan Pembayaran

Sudah beberapa bulan saya tidak login ke Ziddu.com. Ziddu.com menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk menyimpan berbagai macam file dan tentunya tambahan penghasilan bagi para pengguna Ziddu.com menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika penggun a Ziddu.com pun membengkak. Ziddu.com dimulai pada tahun 2007 dan semua fitur yang unik dan inovatif membuatnya menjadi pemimpin di pasar dalam waktu singkat .    Awal Januari 2012 ini, ternyata ada informasi yang penting dari layanan Ziddu.com yang cukup mengagetkan. "From January 2012, Ziddu will not pay to users. However the Ziddu service is 100% Free for downloading files". Thanks & Regards Ziddu Team Informasi tersebut pada dasarnya memberitahukan bahwa mulai Januari 2012, Ziddu.com tidak akan membayar kepada para penggunanya. Namun demikian masih memberikan layanan donwload secara gratis. Respon pun bermunculan sebagai efek dari penghapusan salah satu bentuk layanan yang selama ini menjad...

Iklan Mie Instan 'Menghina' Guru

mie instant (indocampus.com) Beberapa minggu terakhir ini di dunia maya ramai diperbincangkan tentang sebuah iklan mie instan yang  menurut sebagian besar kalangan terkesan ada unsur penghinaan terhadap profesi guru. Setelah membaca beberapa opini tentang iklan mie instan yang menghina guru tersebut timbullah rasa keingintahuan saya untuk segera melihat iklan tersebut. Rasa penasaran kian menjadi, namun setelah beberapa jam memelototi televisi akhirnya muncul juga iklan yang dimaksud. Pada awalnya iklan ini memang menceritakan hal yang wajar-wajar saja, seorang anak yang hobi memelihara ayam sangat kaget ketika pulang sekolah ayam peliharaannya tidak ada sama sekali. Kemudian anak tersebut makan mie instan yang dihidangkan neneknya dengan nikmat. Semua berjalan wajar dan seadanya. Hal yang sangat tidak wajar adalah pada bagian akhir dari iklan tersebut. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru melihat seekor ayam yang nangkring di kepala seorang guru dalam iklan tersebu...