Langsung ke konten utama

The Power of 'Salah'

Yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan suatu kesalahan, baik karena hal-hal yang disengaja ataupun faktor ketidaksengajaan. Namun demikian unsur kesengajaan atau tidak, kesalahan tetap sebuah kesalahan, tidak serta merta berubah menjadi kebenaran walau dalih ketidaksengajaan menjadi tameng pembenaran. 

Hal yang patut kita pelajari bersama adalah sulitnya mengakui kesalahan diri kita masing-masing. Maka benar adanya tentang peribahasa "Gajah dipelupuk mata tak tampak, semut diseberang lautan terlihat jelas" atau "Lempar batu sembunyi tangan". Sekecil apapun tercatat dengan jelas berbagai kesalahan orang lain yang tertumpuk dalam memori kita , namun melupakan apa yang menjadi kesalahan kita sendiri. Kecenderungan seperti itu biasanya sering terjadi. Manusia umumnya hanya bisa melihat serta menunjuk apa yang menjadi kekurangan orang lain, namun sayangnya kita sendiri melupakan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. 

Terlampau mahalkah arti sebuah pengakuan terhadap suatu kesalahan. Bukankah hal yang manusiawi jikalau kita melakukan sebuah kesalahan.  Namun perlu dicatat jangan jadikan alasan manusiawi ini sebagai dalih untuk bersembunyi di balik kesalahan. Jadi tidak ada salahnya kita untuk berlatih dan belajar mengakui sebuah kesalahan yang telah kita lakukan. Mengelak atau menimpakan resiko dari kesalahan yang telah kita lakukan kepada orang lain adalah pertanda bahwa kita sebenarnya tidak memiliki kemampuan  dalam menyelesaikan suatu tugas. Dalam hal ini saya lebih senang dengan menyebutnya sebagai aktivitas yang tidak kita sadari yaitu  berupa pembunuhan karakter positif yang telah kita miliki. Jadi mengapa harus takut dengan kesalahan ?

Menyadari dan mengakui akan kesalahan yang telah diperbuatnya adalah hal yang sangat positif. Karena sebenarnya banyak hal yang dapat kita peroleh dari sebuah kesalahan. The Power of 'Salah'. Kesalahan dapat memberikan energi positif yang sangat dahsyat. Kesalahan layaknya sebuah cermin. Kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dapat diidentifikasi dan sekaligus dapat menjadi  stimulus atau rangsangan untuk memperbaiki segala kekurangan sehingga suatu saat dapat mencapai keberhasilan.

Kesalahan adalah proses pembelajaran. Ketika seseorang berusaha untuk membuat produk tertentu, pada tahap awal hasilnya kurang layak, atau katakanlah sangat tidak layak. Perbaikan demi perbaikan dilakukan melalui sebuah proses yang berulang-ulang  dan pada akhirnya memperoleh hasil yang diharapkan. Jadi mengapa kita harus takut dengan kesalahan ?

Sebagai penutup, saya salin kembali tulisan yang ada di buku agenda pribadi yang telah usang, berkenaan dengan kata-kata motivasi dari seorang Siti Hardiyanti Rukmana putri almarhum presiden Soeharto. Semoga dapat dapat berguna bagi kita semua. Salam ..

Akhir Juli '95

Kesalahan adalah kesalahan. Bisa karena salah menghitung, atau salah berpikir. Tetapi itu bukan kegagalan. Kegagalan adalah bila kita tidak berhasil mengidentifikasikan penyebab kesalahan. Kegagalan adalah bila kita mengulangi kesalahan serupa berulang-ulang (Siti Hariyanti Rukmana).






Komentar

emingko mengatakan…
tulisannya bgus om :) saya tunggu updatenya...
jgn lupa mampir ke eMingko Blog
Dewa Made mengatakan…
Kebanyakan orang takut salah karena sedari kecil kita banyak diajar oleh ortu kita bahwa kita tidak boleh melakukan kesalahan, sehingga saat kita besar menjadi takut melakukan kesalahan. Padahal dengan kesalahan kita akan banya belajar. Setuju dengan sampeyan mas.
Rasimun Way mengatakan…
@emingko : terima kasih alias matur nuwun
Rasimun Way mengatakan…
@dewa made : ortu terkadang menuntut kita untuk perfect, namun kita juga harus menyadari tidak semua harapan dapat dicapai dengan mulus. Sesekali kita dapat terpeleset, dan bukankah orang tidak mau terpeleset yang kedua kalinya. Inilah proses pembelajaran. Salam ..

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan , yaitu generasi hedonis , generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berte...

Ziddu Hentikan Layanan Pembayaran

Sudah beberapa bulan saya tidak login ke Ziddu.com. Ziddu.com menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk menyimpan berbagai macam file dan tentunya tambahan penghasilan bagi para pengguna Ziddu.com menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika penggun a Ziddu.com pun membengkak. Ziddu.com dimulai pada tahun 2007 dan semua fitur yang unik dan inovatif membuatnya menjadi pemimpin di pasar dalam waktu singkat .    Awal Januari 2012 ini, ternyata ada informasi yang penting dari layanan Ziddu.com yang cukup mengagetkan. "From January 2012, Ziddu will not pay to users. However the Ziddu service is 100% Free for downloading files". Thanks & Regards Ziddu Team Informasi tersebut pada dasarnya memberitahukan bahwa mulai Januari 2012, Ziddu.com tidak akan membayar kepada para penggunanya. Namun demikian masih memberikan layanan donwload secara gratis. Respon pun bermunculan sebagai efek dari penghapusan salah satu bentuk layanan yang selama ini menjad...

Iklan Mie Instan 'Menghina' Guru

mie instant (indocampus.com) Beberapa minggu terakhir ini di dunia maya ramai diperbincangkan tentang sebuah iklan mie instan yang  menurut sebagian besar kalangan terkesan ada unsur penghinaan terhadap profesi guru. Setelah membaca beberapa opini tentang iklan mie instan yang menghina guru tersebut timbullah rasa keingintahuan saya untuk segera melihat iklan tersebut. Rasa penasaran kian menjadi, namun setelah beberapa jam memelototi televisi akhirnya muncul juga iklan yang dimaksud. Pada awalnya iklan ini memang menceritakan hal yang wajar-wajar saja, seorang anak yang hobi memelihara ayam sangat kaget ketika pulang sekolah ayam peliharaannya tidak ada sama sekali. Kemudian anak tersebut makan mie instan yang dihidangkan neneknya dengan nikmat. Semua berjalan wajar dan seadanya. Hal yang sangat tidak wajar adalah pada bagian akhir dari iklan tersebut. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru melihat seekor ayam yang nangkring di kepala seorang guru dalam iklan tersebu...