Langsung ke konten utama

Pendidikan Karakter Butuh Keteladanan

Siapakah tidak mengelus dada melihat kekarutmarutan yang terjadi di negeri ini? Kita seperti telah kehilangan rasa saling menghormati, menghargai, dan mencintai. Hampir setiap hari berseliweran berita aksi kekerasan masif di ruang publik: mutilasi, pembunuhan terencana, korupsi, pembunuhan karakter, saling fitnah, mafia hukum-peradilan, saling hujat, dan aneka ulah barbar lainnya. Ketika masyarakat seperti makin permisif, negara seolah-olah tak berdaya, membiarkan api membara membakar semua.

Menyadari kondisi terpuruk itu, banyak pihak menyakini pendidikan karakter menjadi resep kebangkitan bangsa, tidak terkecuali Menteri Pendidikan Nasional yang tahun ini mengusung tema ”Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti”. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, agar anak manusia itu tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya. Namun belakangan, pendidikan justru kering dari nilai-nilai spiritualitas, bahkan mengarah ke dehumanisasi, keterkikisan nilai-nilai kemanusian.

Revitalisasi tentu bukan pekerjaan mudah, mengingat pendidikan kita telah terjebak terlalu dalam ke muatan intelektualisme. Seolah-olah dianggap selesai ketika anak-anak kita membawa pulang ijazah. Kita lupa amanah konstitusi bahwa pendidikan bukan hanya membentuk insan yang cerdas secara intelektual, melainkan cerdas secara emosional, berkepribadian, atau berkarakter nilai-nilai luhur dan agama. Pendidikan untuk membentuk pribadi anak secara utuh dalam pengetahuan, perasaan, dan tindakan.

Keberhasilan seseorang 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen kecerdasan otak (IQ). Kesuksesan tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis, tetapi pada pengelolaan diri dan orang lain. Secara holistik, cerdas dalam ilmu pengetahuan sekaligus cinta Tuhan, mandiri dan bertanggung jawab, amanah, hormat dan santun, suka menolong dan berkerja sama, percaya diri dan pekerja keras, berjiwa kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, serta toleran.

Wacana pendidikan karakter relevan dengan 36 nilai dalam Pedoman, Penghayatan, dan Pengalaman Pancasila (P4) sebagai dasar bersikap dan berperilaku. Ketika hendak menyakiti sesamanya ingat prinsip ketuhanan yang tidak mengajarkan kekerasan. Ketika hendak curang ingat nilai-nilai kemanusiaan. Ketika terjangkiti primordialisme ingat nilai-nilai kesatuan. Ketika ingin menang-menangan, ingat nilai-nilai dasar demokrasi. Pun ketika hendak menilap uang negara, ingat prinsip keadilan.

Dehumanisasi menjadi tantangan serius pendidikan karakter. Para pengambil kebijakan harus memahami benar hakikat: bukan sekadar menguasai teknis, apalagi tukang. Masyarakat, orang tua, dan guru berkarakter merupakan kunci utama dengan teladan sikap dan perilaku. Kesungguhan elite penguasa juga diuji, jangan obor blarak, agar pendidikan kita tidak terpuruk terlalu dalam. Dibutuhkan tindakan nyata, bukan wacana dan pencitraan, jika ingin melihat anak-anak kita hebat dan sukses di masa datang. 
 
source : suaramerdeka.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan , yaitu generasi hedonis , generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berte...

Ziddu Hentikan Layanan Pembayaran

Sudah beberapa bulan saya tidak login ke Ziddu.com. Ziddu.com menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk menyimpan berbagai macam file dan tentunya tambahan penghasilan bagi para pengguna Ziddu.com menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika penggun a Ziddu.com pun membengkak. Ziddu.com dimulai pada tahun 2007 dan semua fitur yang unik dan inovatif membuatnya menjadi pemimpin di pasar dalam waktu singkat .    Awal Januari 2012 ini, ternyata ada informasi yang penting dari layanan Ziddu.com yang cukup mengagetkan. "From January 2012, Ziddu will not pay to users. However the Ziddu service is 100% Free for downloading files". Thanks & Regards Ziddu Team Informasi tersebut pada dasarnya memberitahukan bahwa mulai Januari 2012, Ziddu.com tidak akan membayar kepada para penggunanya. Namun demikian masih memberikan layanan donwload secara gratis. Respon pun bermunculan sebagai efek dari penghapusan salah satu bentuk layanan yang selama ini menjad...

Iklan Mie Instan 'Menghina' Guru

mie instant (indocampus.com) Beberapa minggu terakhir ini di dunia maya ramai diperbincangkan tentang sebuah iklan mie instan yang  menurut sebagian besar kalangan terkesan ada unsur penghinaan terhadap profesi guru. Setelah membaca beberapa opini tentang iklan mie instan yang menghina guru tersebut timbullah rasa keingintahuan saya untuk segera melihat iklan tersebut. Rasa penasaran kian menjadi, namun setelah beberapa jam memelototi televisi akhirnya muncul juga iklan yang dimaksud. Pada awalnya iklan ini memang menceritakan hal yang wajar-wajar saja, seorang anak yang hobi memelihara ayam sangat kaget ketika pulang sekolah ayam peliharaannya tidak ada sama sekali. Kemudian anak tersebut makan mie instan yang dihidangkan neneknya dengan nikmat. Semua berjalan wajar dan seadanya. Hal yang sangat tidak wajar adalah pada bagian akhir dari iklan tersebut. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru melihat seekor ayam yang nangkring di kepala seorang guru dalam iklan tersebu...