Langsung ke konten utama

Kakek Yang Pintar

Cerita ini humor hanya rekaan belaka .. **tidak usah dibuat repot** diadopsi dari Cerita Kocak Bikin Mencak2 punya Wina Aswir ..

Alkisah ada seorang kakek yang lumayan kaya. Ia memiliki tanah yang luas dan dalam tanah itu ada kebun dengan aneka tanamannya disekitar kolam. Kolam itu sangat jauh dari pemukiman penduduk dan airnya sangat jernih. Suatu saat, sang kakek ingin memanen beberapa tanamannya maka ia membawa ember yang lumayan besar. Ketika tiba disekitar kolam, tiba-tiba sang kakek terkejut. Ia mendengar suara tawa dan jeritan beberapa perempuan. Sang kakek melihat beberapa perempuan yang seksi sedang berenang dan (mohon maaf ...) tanpa busana ( kelihatan ngawurnya ..hehe ). 

Beberapa saat kemudian, perempuan-perempuan yang sedang berenang tadi kaget bukan kepalang melihat kedatangan tak terduga sang kakek Mereka pun menjerit dan merendam dalam-dalam agar tak kelihatan oleh sang kakek. Sesaat ada yang muncul dipermukaan air sambil berkata..."Kami tak akan keluar sebelum kakek pergi." 
Sang kakek pun tak kurang akal dengan membawa embernya, ia pun berteriak kepada perempuan-perempuan itu. "Saya ke sini bukan ingin melihat kalian berenang telanjang atau menyuruh kalian keluar dari kolam. Saya kesini hanya mau ngasih makan buaya." Mendengar suara kakek, perempuan-perempuan tersebut panik, berhamburan menuju ketepian kolam. Hahahaha ....selanjutnya terserah anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan , yaitu generasi hedonis , generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berte...

Ziddu Hentikan Layanan Pembayaran

Sudah beberapa bulan saya tidak login ke Ziddu.com. Ziddu.com menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk menyimpan berbagai macam file dan tentunya tambahan penghasilan bagi para pengguna Ziddu.com menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika penggun a Ziddu.com pun membengkak. Ziddu.com dimulai pada tahun 2007 dan semua fitur yang unik dan inovatif membuatnya menjadi pemimpin di pasar dalam waktu singkat .    Awal Januari 2012 ini, ternyata ada informasi yang penting dari layanan Ziddu.com yang cukup mengagetkan. "From January 2012, Ziddu will not pay to users. However the Ziddu service is 100% Free for downloading files". Thanks & Regards Ziddu Team Informasi tersebut pada dasarnya memberitahukan bahwa mulai Januari 2012, Ziddu.com tidak akan membayar kepada para penggunanya. Namun demikian masih memberikan layanan donwload secara gratis. Respon pun bermunculan sebagai efek dari penghapusan salah satu bentuk layanan yang selama ini menjad...

Iklan Mie Instan 'Menghina' Guru

mie instant (indocampus.com) Beberapa minggu terakhir ini di dunia maya ramai diperbincangkan tentang sebuah iklan mie instan yang  menurut sebagian besar kalangan terkesan ada unsur penghinaan terhadap profesi guru. Setelah membaca beberapa opini tentang iklan mie instan yang menghina guru tersebut timbullah rasa keingintahuan saya untuk segera melihat iklan tersebut. Rasa penasaran kian menjadi, namun setelah beberapa jam memelototi televisi akhirnya muncul juga iklan yang dimaksud. Pada awalnya iklan ini memang menceritakan hal yang wajar-wajar saja, seorang anak yang hobi memelihara ayam sangat kaget ketika pulang sekolah ayam peliharaannya tidak ada sama sekali. Kemudian anak tersebut makan mie instan yang dihidangkan neneknya dengan nikmat. Semua berjalan wajar dan seadanya. Hal yang sangat tidak wajar adalah pada bagian akhir dari iklan tersebut. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru melihat seekor ayam yang nangkring di kepala seorang guru dalam iklan tersebu...