Langsung ke konten utama

WISATA KEBUMEN : PANTAI PETANAHAN




Pantai Petanahan (pantaikebumen.blogspot.com)
Pantai Petanahan merupakan Obyek wisata tahunan. Ini mengingat pengunjung yang datang ke Obwis (Obyek Wisata) tersebut, paling dalam satu tahun hanya dua kali. Lebaran Idul Fitri dan pada hari raya Idul Adha, atau hari raya Qurban.

Hanya saja, Obwis tersebut mempunyai keunikan tersendiri dibanding Obwis lainnya di Kabupaten Kebumen. Pengunjungnya bukan hanya dari luar Kabupaten Kebumen, tetapi masyarakat di sekitar lokasi tersebut, yakni masyarakat kecamatan Petanahan tetap menyempatkan diri untuk datang ke pantai tersebut.

Pantai yang terletak di Desa Karanggadung Kecamatan Petanahan ini, nampaknya memang mempunyai kekhasan tersendiri. Seolah ada daya pikat bagi pengunjung yang pernah datang. Sekalipun mereka hanya untuk menikmati deburan ombak laut yang seolah berkejaran tak ada henti-hentinya.

Sekalipun panas terik matahari menyengat tubuh Wisatawan yang datang ke Pantai tersebut, misalnya di saat hari raya Idul Fitri, terutama pada hari ke tujuh dan ke delapan. Namun pengunjung tak ada hentinya sampai malam hari. Padahal, mereka ini harus datang berhimpit sampai ke Pantai Petanahan.

Pandan Cemara
Tidak seperti Pantai di Kabupaten Kebumen lainnya, pengunjung bisa menikmati deburan ombak dan menyaksikan hamparan laut selatan ini seolah tak ada batasnya. Ini salah satu yang membuat pengunjung merasa puas datang ke Obwis tersebut.

Setelah berjalan-jalan menelusuri pantai yang begitu luas, dengan menyaksikan deburan ombak laut yang bekejar-kejaran, kita bisa menyaksikannya dengan duduk-duduk santai di pengunungan pantai tersebut yang sekelilingnya ini terdapat tumbuhan cemara dan pohon pandan yang mempunyai mitos sendiri.

Duduk bercanda dan bercengkrama menyaksikan lalut begitu indahnya bisa melupakan semua persoalan yang kita hadapi. Selain itu, akan mengingatkan kita akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan bumi dan isinya, termasuk laut Petanahan yang sedang kita saksikan bersama keluaraga, atau bisa jadi dengan pacar dan di laut ini pula kita sering bertemu dengan teman yang sudah lama tak jumpa.

Dibangun
Tak bedanya dengan seorang gadis yang mulai senang berdandan, pantai Petanahan ini juga mulai berbenah diri. Sekalipun sekarang keadaanya belum selesai, karena melalui beberapa tahapan, namun perubahan Obwis tersebut sudah kelihatan tertata apik dan menjanjikan sesuatu yang baru bagi pengunjung yang datang.

Sekarang sudah mulai bisa kita lihat adanya gedung kantor,panggung hiburan, sekalipun belum selesai dikerjakan, namun dapatlah kita beristirahat di gardu pandang yang memang disediakan oleh Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Kebumen. Selain itu, jalan menuju pantai Petanahan ini sangat mulus.

Perubahan lain yang bisa kita saksikan pada Garis Pantai Petanahan ini adalah adanya pembangunan Pendopo di dekat pesanggrahan Pandan Kuning yang memang mempunyai mitos tersendiri bagi mereka yang gemar melakukan semedi.

Selain itu, pengunjung Pantai Petanahan ini sekarang sudah ada perubahan yang begitu pesat. Jadi, ramainya bukan hanya saat lebaran atau hari besar lainnya. Penduduk sekitar Kecamatan Petanahan, Puring, Klirong, Adimulyo, bahkan ada yang datang dari Gombong dan Kebumen tiap hari Minggu pagi pantai tersebut dimanfaatkan untuk sarana olahraga.

Ada yang datang dengan jalan kaki berkilo-kilo, ada yang menggunakan sepeda, juga tak sedikit yang menggunakan sepeda motor. Begitu sampai di pantai, mereka langsung jalan-jalan atau lari ke sana-kemari. Setelah itu, mereka bisa beristirahat dengan menikmati minuman Nira dan makan nasi kuning yang dibungkus kecil-kecil, atau menikmati makanan lainnya yang juga cukup murah.

Cinta Sejati
Kebanyakan pengunjung di Obwis Pantai Petanahan ini memang kalangan remaja. Lebih khusus, mereka kebanyakan datang berdua dengan sang kekasih. Secara mitos, ini tentu bisa kita terima. Sebab, di Pantai tersebut ada kisah cinta yang memang cukup menarik untuk disimak.

Menurut para sesepuh, tokoh masyarakat dan buku legenda yang ditulis oleh Dinas Pariwisata setempat, pada sekitar tahun 1601, yakni pada masa pemerintahan Mataran yang Rajanya Sutawijaya, terlahirlah seorang gadis cantik dan jelita yang bernama Dewi Sulastri.

Hidungnya yang mancung dengan mukannya lonjong bagai telor, kulitnya yang juga kuning dan rambut panjang terurai, menambah kece Sulastri. Kelebihan lainnya, gadis keturunan bangsawan ini ternyata tak mempunyai watak sombong, di mana cewek kece ini selalu bersikap ramah pada siapapun.

Namun begitu, darah bangsawan yang bernama Lastri, panggilan akrab Sulastri ternyata merasa terkekang dengan adat yang terjadi di lingkungannya. Sebab, Lastri ini adalah anak dari seorang Bupati Pucang Kembar. Ayahnya tak lain adalah Bupati Citro Kusumo yang memang cukup disegani oleh warganya.

Ternyata, Sulastri ini oleh ayahnya telah dicalonkan dengan Joko Puring. Seorang Adipati di Bulupitu. Sayang, dara jelita ini tak mau dijodohkan dengan lelaki bernama Joko Puring. Katanya sekalipun Adipati yang bernama Joko Puring ini juga cukup keren, namun Lastri tak merasa adanya getaran cinta.

Makanya, begitu ada seorang bernama Raden Sujono, sekalipun hanya seorang anak Demang dari Wonokusumo, yang datang untuk mengabdi menjadi seorang pembantu, Lastri dengan berbagai argumentasi pada ayahnya agar orang tersebut diterima sebagai abdi dalem di Pucang Kembar.




Rupanya Bupati Citrokusumo tak kuasa menolak keinginan anaknya dan diterimalah Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar. Padalah, Joko Puring sebelumnya juga telah mengajukan argumentasi pada Camernya (Calon mertuanya), agar menolak keinginan Raden Sujono sebagai Abdi di Pucang Kembar.

Terjadilah cinta segitiga antara Joko Puring dan Raden Sujono yang sama-sama mencintai Dewi Sulastri yang cukup kece itu. Bedanya, cinta Raden Sujono bahkan sangat diharapkan oleh putri citra Pucang Kembar, sedang Joko Puring cintanya tak kesampaian.

Cinta segitiga ini akhirnya berkembang menjadi huru-hara bagi Kabupaten Pucang Kembar. Namun dengan modal tampan dan kesungguhannya, Raden Sujono berhasil mempersunting Ratu Ayu Kabupaten Pucang Kembar menggantikan Citro Kusumo menjadi bupati di Kabupaten tersebut.

Prahara cinta ini tak berhenti sampai di sini, sekalipun sudah dipertaruhkan dengan adanya Sayembara dan dimenangkan oleh Raden Sujono. Buntutnya ketka suami Sulastri sedang menjalankan tugas negara memberantas berandal, atau preman-preman, secara ekbetulan Joko Puring bisa membawa lari Sulastri sampai ke Pantai Karanggadung yang sekarang dikenal sebagai Pantai Petanahan.

Tetapi hal tersebut diketahui oleh Raden Sujono dan akhirnya terjadi lagi pertarungan yang maha dahsyat dua satria yang memang punya kesaktian. Namun begitu, Sulastri akhirnya bisa direbut kembali oleh suaminya. Dalam versi lain disebutkan, bahwa ketika Sulastri diikat pada pohon Pandan ternyata ada suatu keajaiban.

Pandan tersebut beruabah menjadi Pandan Kuning dan nama tersebut digunakan untuk memberi nama tempat istirahatnya Sulastri dan suaminya, setelah Joko Puring berhasil dihalau pergi entah kemana. Sedang Sulastri yang telah dibawa pergi oleh Joko Puring tetap tak mau menerima cinta Joko Puring seklipun diancam akan dibunuh.

Inilah kesetiaan dari Dewi Sulastri terhadap suaminya yang sejak awal memang didambakan. Prinsipnya, sekalipun ditinggal tugas oleh suaminya sekian lama, toh tak mengurangi kadar cintanya, bahkan sudah tak ada tempat lagi bagi lelaki lain.

Begitu perjuangan mempertahankan istrinya dari Joko Puring berhasil, kedua pengantin baru ini mempertahankan istrinya dari Joko Puring berhasil, kedua pengantin baru ini beristirahat di bawah semak-semak pandan yang ada di Pantai Petanahan yang indah tersebut. Apalagi keduanya sudah lama berpisah, tentu merupakan saat terindah bagi Sulastri dan Raden Sujono.

Ny. Loro Kidul
Begitu keduanya cukup beristirahat dan memadu kasih, segeralah keduanya meninggalkan pandan yang rimbun tersebut yang telah mengukir cinta keduanya. namun sebelumnya, Raden Sujono konon ditemui oleh Ny Loro Kidul. Maksudnya tempat yang telah digunakan oleh keduanya beristirahat ini diminta menjadi tempat peristirahatan, atau pesanggrahan Ny. Loro Kidul.

Sejak itu pula, sepeninggalan Dewi Sulastri si mantan Putri Citra Pucang Kembar, dengan leluasa tempat tersebut digunakan oleh Ny. Loro Kidul. Sejak itu pula, tempat tersebut dimanfaatkan orang untuk semedi dan mengheningkan cipta.

Menurut beberapa sumber, banyak sudah orang yang percaya melakukan tapa di tempat tersebut yang berhasil, bahkan ada yang sampai membangun tempat tersebut. Selain itu, orang-orang yang merasa berhasil semedi di tempat ini setiap malam Jum'at Kliwon Bulan Syura diadakan upacara larungan. Ini dimulai sejak siang hari sampai menjelang ayam berkokok.

Inilah barangkali yang membuat Pantai Petanahan mempunyai daya pikat sendiri bagi pengunjungnya, sekalipun di tempat tersebut tak diadakan sesuatu hiburan. apalag sekarang Pantai Petanahan ini sudah mulai tertata rapi, tentu merupakan tempat rekreasi yang sangat didambakan oleh wisatawan.

Dengan berjalan menyaksikan pegunungan pasir, daun cemara yang terlihat menguning dan tanaman pandan sepanjang jalan mengantar kita untuk menyaksikan deburan ombak Pantai Petanahan yang seolah menyambut kedatangan Wisatawan. Tidak salah, kalau ada yang mengatakan, pantai tersebut memang cukup indah.

source

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan , yaitu generasi hedonis , generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berte...

Ziddu Hentikan Layanan Pembayaran

Sudah beberapa bulan saya tidak login ke Ziddu.com. Ziddu.com menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk menyimpan berbagai macam file dan tentunya tambahan penghasilan bagi para pengguna Ziddu.com menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika penggun a Ziddu.com pun membengkak. Ziddu.com dimulai pada tahun 2007 dan semua fitur yang unik dan inovatif membuatnya menjadi pemimpin di pasar dalam waktu singkat .    Awal Januari 2012 ini, ternyata ada informasi yang penting dari layanan Ziddu.com yang cukup mengagetkan. "From January 2012, Ziddu will not pay to users. However the Ziddu service is 100% Free for downloading files". Thanks & Regards Ziddu Team Informasi tersebut pada dasarnya memberitahukan bahwa mulai Januari 2012, Ziddu.com tidak akan membayar kepada para penggunanya. Namun demikian masih memberikan layanan donwload secara gratis. Respon pun bermunculan sebagai efek dari penghapusan salah satu bentuk layanan yang selama ini menjad...

Iklan Mie Instan 'Menghina' Guru

mie instant (indocampus.com) Beberapa minggu terakhir ini di dunia maya ramai diperbincangkan tentang sebuah iklan mie instan yang  menurut sebagian besar kalangan terkesan ada unsur penghinaan terhadap profesi guru. Setelah membaca beberapa opini tentang iklan mie instan yang menghina guru tersebut timbullah rasa keingintahuan saya untuk segera melihat iklan tersebut. Rasa penasaran kian menjadi, namun setelah beberapa jam memelototi televisi akhirnya muncul juga iklan yang dimaksud. Pada awalnya iklan ini memang menceritakan hal yang wajar-wajar saja, seorang anak yang hobi memelihara ayam sangat kaget ketika pulang sekolah ayam peliharaannya tidak ada sama sekali. Kemudian anak tersebut makan mie instan yang dihidangkan neneknya dengan nikmat. Semua berjalan wajar dan seadanya. Hal yang sangat tidak wajar adalah pada bagian akhir dari iklan tersebut. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru melihat seekor ayam yang nangkring di kepala seorang guru dalam iklan tersebu...