Langsung ke konten utama

Mendiknas : Buku tentang SBY Tak Akan Ditarik

 


Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menarik buku tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang beredar di sejumlah sekolah karena bukan buku haram dan sudah melalui prosedur seleksi yang benar. "Tidak akan ditarik karena bukan buku haram," kata M Nuh saat menyampaikan pernyataan resmi di Kantor Presiden, Jakarta, Senin.

M Nuh mengatakan, buku tentang Susilo Bambang Yudhoyono yang beredar di sejumlah sekolah di Tegal, Jawa Tengah, itu masuk dalam kategori buku untuk pengayaan pengetahuan siswa. Menurut dia, buku-buku tentang Presiden Yudhoyono itu termasuk dalam 807 buku yang telah lolos seleksi untuk dijadikan buku bahan pengayaan di sekolah-sekolah.

Dia menjelaskan, buku yang akan dijadikan bahan pengayaan harus diusulkan oleh pihak penerbit. Setelah itu, tim independen akan mendalami apakah buku-buku tersebut layak dijadikan buku pengayaan.

Tim akan memberikan rekomendasi jika buku-buku tersebut bisa dijadikan buku pengayaan. "Dari situ menteri menetapkan buku yang sudah layak untuk buku pengayaan," katanya.

Pihak sekolah, kata M Nuh, bebas memilih buku-buku tertentu untuk dijadikan bahan pengayaan asalkan buku itu telah dinyatakan lolos seleksi oleh tim independen dan mendapat persetujuan menteri.
"Yang jelas, yang ingin saya sampaikan, tidak ada pesan, tidak ada inisiatif dari Presiden bahwa beliau ingin bukunya ditulis, dan dipasarkan di sekolah-sekolah, itu tidak ada," katanya.

Ia menjelaskan, pengadaan buku-buku pengayaan bisa menggunakan dana alokasi khusus.

Buku pengayaan adalah salah satu jenis buku untuk keperluan pendidikan siswa. Jenis buku yang lain adalah buku teks yang pengadaannya melalui bantuan operasional sekolah, buku pegangan guru, dan buku soal.


Sumber : republika.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Karakter Perlu Keteladanan

Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri. Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan , yaitu generasi hedonis , generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas, menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah berte...

Ziddu Hentikan Layanan Pembayaran

Sudah beberapa bulan saya tidak login ke Ziddu.com. Ziddu.com menjadi alternatif yang dapat diandalkan untuk menyimpan berbagai macam file dan tentunya tambahan penghasilan bagi para pengguna Ziddu.com menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran jika penggun a Ziddu.com pun membengkak. Ziddu.com dimulai pada tahun 2007 dan semua fitur yang unik dan inovatif membuatnya menjadi pemimpin di pasar dalam waktu singkat .    Awal Januari 2012 ini, ternyata ada informasi yang penting dari layanan Ziddu.com yang cukup mengagetkan. "From January 2012, Ziddu will not pay to users. However the Ziddu service is 100% Free for downloading files". Thanks & Regards Ziddu Team Informasi tersebut pada dasarnya memberitahukan bahwa mulai Januari 2012, Ziddu.com tidak akan membayar kepada para penggunanya. Namun demikian masih memberikan layanan donwload secara gratis. Respon pun bermunculan sebagai efek dari penghapusan salah satu bentuk layanan yang selama ini menjad...

Iklan Mie Instan 'Menghina' Guru

mie instant (indocampus.com) Beberapa minggu terakhir ini di dunia maya ramai diperbincangkan tentang sebuah iklan mie instan yang  menurut sebagian besar kalangan terkesan ada unsur penghinaan terhadap profesi guru. Setelah membaca beberapa opini tentang iklan mie instan yang menghina guru tersebut timbullah rasa keingintahuan saya untuk segera melihat iklan tersebut. Rasa penasaran kian menjadi, namun setelah beberapa jam memelototi televisi akhirnya muncul juga iklan yang dimaksud. Pada awalnya iklan ini memang menceritakan hal yang wajar-wajar saja, seorang anak yang hobi memelihara ayam sangat kaget ketika pulang sekolah ayam peliharaannya tidak ada sama sekali. Kemudian anak tersebut makan mie instan yang dihidangkan neneknya dengan nikmat. Semua berjalan wajar dan seadanya. Hal yang sangat tidak wajar adalah pada bagian akhir dari iklan tersebut. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai guru melihat seekor ayam yang nangkring di kepala seorang guru dalam iklan tersebu...